Imam Hanafi, mengatur lalu lintas di Jalan H M Yasin Limpo

Salut! Imam Hanafi Rela Atur Lalu Lintas di JL. H M Yasin Limpo Gowa Tanpa Digaji

Sabtu, 06 Juli 2019 | 16:30 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Junaid - Gosulsel.com

GOWA, GOSULSEL.COM — Siapa yang tak kenal bapak yang satu ini, khususnya di kalangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar dan sebagian besar warga Kelurahan Samata Kecamatan Somba Opu sudah tidak asing lagi. Pasalnya, hampir setiap hari di pagi dan sore ia mengatur lalu lintas di Jalan H M Yasin Limpo.

Namanya Imam Hanafi, warga asal Mojokerto Jawa Timur. Pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sulawesi Selatan ini sekitar 9 tahun yang lalu tepatnya tahun 2010.

Tak ada keluarga, ia datang ke tanah daeng ini hanya seorang diri. Isteri bersama tiga orang anaknya ia tinggal di Mojokerto. Lelaki kelahiran 1970 ini datang ke Kabupaten Gowa untuk mengadu nasib.

“2010 saya mulai datang ke Makassar. Saya sendirian ke sini tanpa Keluarga. Keluarga di Jawa semua, Mojokerto. Anak di Jawa 3,” ujarnya kepada Gosulsel.com.



Atas dasar itulah, lelaki 43 tahun rela menjadi pengatur lalu lintas untuk membantu sesama agar dikenal dan bermanfaat bagi banyak orang. Tidak ada gaji yang ia terima, semua itu dia lakukan atas kesukarelaan.

Baginya, tidak ada yang lebih penting dari keselamatan dan membantu orang lain. “Bagi saya itu tadi tidak terlalu memikirkan duitlah. Karena duit kalau mati gak dibawa. Bagi saya harta itu nomor dua, yang penting banyak saudara udah aman. Karena saya di sini tanpa keluarga, hanya seorang diri,” kisahnya.

Walaupun hanya kesukarelaan, namun tak jarang ada juga pengendara yang kasihan dan memberinya uang. “Tapi sebagian ada yang ngasih. Tapi yang penting tujuannya aman, paling banyak yang tidak ngasih. Tapi paling banyak kalau ngasih yaa Rp50 ribu, ada juga yang ngasih Rp100 dan kadang tidak ada sama sekali kosong,” ungkapnya.

Bermodal seragam polisi dan sempritan yang ia peroleh dari Polres Gowa, Imam Hanafi juga mengungkapkan bahwa hal tersebut ia lakukan karena hobi sekaligus menghibur diri. 

“Saya ke sini cuma merantau sendiri, kalau begini kan bukan kerja cuma hiburan aja, tidak ada gaji,” jelasnya.

Ayah 3 orang anak ini tidak akan meninggalkan jalan yang menghubungkan Jalan Macanda dan Jalan Tun Abdul Razak jika belum benar-benar sunyi. Ia bahkan sampai jam 7 malam untuk mengatur lalu lintas.

“Kalau pagi kadang mulai jam 7 atau jam 8 apalagi kalau hari Senin pasti padat dan kalau pulang kadang jam 5 sore atau jam 7. Tapi tergantung kapan sepinya,” tutupnya.

Namun ia mengaku pekerjaan pokoknya di tanah Gowa ini sebagai pencari makanan burung yaitu sarang semut. “Pekerjaan pokok cari makanan burung yang di atas pohon itu telur semut merah dan dijual ke Toddopuli pasar burung ada langganan,” ungkapnya.

Walaupun dari hasil menjual sarang semut yang dijualnya Rp250 ribu perkilo tak cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, namun ia tetap berusaha menyisihkan sebagian hasil penjualannya untuk dikirim ke keluarga di Mojokerto.

“Awalnya datang ke sini saya kerja di tempat bikin kursi dari roda mobil tapi tidak cocok, gajinya kecil jadi saya tinggalkan mending bikin usaha sendiri. Tidak perbulan kirim uang, lama saya gak kirim, kalau tahun ini baru lebaran kemarin krim uang,” ujarnya sambil sesekali melap keringan yang memabasahi dahinya.

Tak jarang aksinya tersebut mendapat respon positif dari pengguna jalan. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang mahasiswi Jurusan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar ini, Nur Asrayani.

Acha sapaan akrabnya yang setiap harinya melewati jalan tersebut menuju kampusnya mengaku sering melihat Imam Hanafi mengatur lalu lintas dan ia mengaku sangat terbantu mengingat ruas jalan tersebut menjadi salah satu titik kemacetan.

“Kalau saya salut sama beliau karena dia relakan waktunya buat atur lalu lintas sekalipun mungkin tidak di kasih upah. Area macet memang dan sering saya liat itu bapak atur kendaraan termasuk saat kebetulan saya juga lewat intinya terbantulah dan dia juga satu-satunya yang peduli,” ucap Acha mahasiswi Jurnalistik angkatan 2016 ini.(*)