PP Muslimat NU bersama Yayasan Abhiparaya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) menggelar kegiatan talkshow dan lomba kreasi susu kental manis di Gedung Krida Nirmala Dinas Kesehatan Prov Sulsel, Kamis (8/8/2019)

Lewat Talkshow, PP Muslimat NU dan YAICI Edukasi Masyarakat tentang Bahaya SKM Bagi Bayi

Kamis, 08 Agustus 2019 | 16:52 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

MAKASSAR, GOSULEL.COM — Pengurus Pusat (PP) Muslimat NU bersama Yayasan Abhiparaya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) menggelar kegiatan talkshow dan lomba kreasi susu kental manis. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Krida Nirmala Dinas Kesehatan Prov Sulsel, Kamis (8/8/2019).

Kegiatan yang juga dilaksanakan di Kota Lampung, Surabaya, dan Semarang tersebut menghadirkan anggota PP Muslimat NU sebagai peserta talkshow.

muhammad-ismak

Diskusi tersebut mengangkat tema peran keluarga dalam perlindungan anak khususnya hak kesehatan sebagai kunci utama membangun generasi emas 2045. Diskusi tersebut guna mengedukasi peserta agar bijak mengkonsumsi susu kental manis (SKM).

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mengatakan bahwa iklan susu kental manis merupakan salah satu iklan yang telah sekian abad menyesatkan persepsi masyarakat. SKM memiliki kandungan gula yang tinggi yaitu 20gram persekali saji/ 1 gelas dengan nilai protein 1 gram, lebih rendah dari susu lainnya.



“Karena persepsi dalam masyarakat, SKM adalah susu padahal itu sangat berbahaya bagi anak utamanya balita karena kandungan gulanya cukup tinggi 50%an. Jadi kita coba intervensi ke dalam masyarakat secara langsung ibu-ibu juga bisa menyampaikan kepada kadernya bahwa SKM itu peruntukannya untuk topping makanan dan minuman bukan untuk diminum secara langsung,” jelas Arif.

Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, dr. Erna Sofihara, mengatakan bayi atau balita yang mengonsumsi susu kental manis bisa terkena diabetes gizi buruk atau penyakit lainnya karena kadar gula susu kental manis yang tinggi.

“Kalo dikonsumsi oleh bayi atau balita otomatis kan gula, gula itu mengenyangkan jadi untuk mengkonsumsi makanan lain si anak jadi malas otomatis gizi yang masuk berkurang. Itulah yang nantinya akan menyebabkan stunting, gizi buruk, dan sebagainya,” paparnya.

Sehingga, melalui talkshow tersebut, ia menyampaikan harapannya agar masyarakat bisa lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsi oleh anak.

“Diharapkan dengan acara ini kita dapat meluruskan bahwa SKM bukan untuk pengganti ASI tetapi sebagai tambahan topping. Diharapkan juga kader bisa menyampaikan kepada masyarakat melalui majelis taklim,” pungkasnya.(*)