Aliansi Pemuda Bontoa melakukan aksi pemasangan spanduk di sejumlah titik di Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74 tahun
#

Rayakan 74 Tahun Merdeka, Pemuda Bontoa Sebar Spanduk Tagih Janji Pemerintah

Minggu, 18 Agustus 2019 | 21:26 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Muhammad Yusuf - GoSulsel.com

MAROS, GOSULSEL.COM — Jika kebanyakan pemuda dan masyarakat dalam memeriahkan peringatan HUT Proklamasi dengan cara bereuforia semisal makan kerupuk, karaoke, balap menggunakan karung dan sebagainya. Namun, berbeda dengan yang dilakukan oleh Aliansi Pemuda Bontoa di Kecamatan Bontoa, Maros.

Aliansi Pemuda Bontoa malah melakukan aksi pemasangan spanduk di sejumlah titik di Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74 tahun. Spanduk bertuliskan kritikan juga menagih janji politik pemerintah Kabupaten Maros tentang kesejahteraan dan dua kali lebih baik.

muhammad-ismak

Spanduk tersebar luas, di jalan-jalan, area kantor Kecamatan Bontoa sampai di sekitar lapangan upacara Pallantikang Kantor Bupati Maros.

Aliansi Pemuda Bontoa melakukan aksi pemasangan spanduk di sejumlah titik di Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74 tahun

Salah seorang anggota Aliansi Pemuda Bontoa Arung, Minggu (18/8/2019), mengatakan bahwa polemik krisis air bersih di kecamatannya itu bukanlah hal baru, setiap tahun warga berlomba dengan itik untuk memperoleh air.



“Ini bukanlah hal baru, semestinya sudah tuntas sebab sudah bertahun-tahun lamanya persoalan ini. Jangan buat kami masyarakat Bontoa sengsara dengan krisis air,” ujar Arung.

Tak ada gambaran keceriaan dalam tulisan yang disebar oleh pemuda Bontoa, seperti “selamat datang di tanah bontoa, wisata tanah gersang”, pemuda Bontoa menolak lupa dua periode terusik janji, dua periode tanpa bukti.

Meskipun saat ini pihak pemerintah Kabupaten Maros tengah melakukan upaya pencarian titik air bersih dan merancang pembangunan pipa. Namun, pemuda Bontoa menganggap bahwa upaya tersebut hanyalah membuang-buang anggaran.

“Terkait dijanjikan oleh Pak Bupati tentang pipanisasi hanya membuang-buang anggaran karena saat ini telah terpasang pipa akan tetapi tidak dialiri air. Alasannya klasik, debit air tidak mencukupi untuk sampai ke Bontoa. Dari pada membangun pipa, kenapa tidak membangun penampungan besar (reservoir),” ujar Hamsah Usman yang juga anggota Aliansi Pemuda Bontoa.

Bahkan mereka menilai bahwa krisis air bersih di Kecamatan Bontoa hanyalah pengkondisian dari beberapa oknum yang memanfaatkan momentum tahunan agar tercipta jalur perpolitikan.

“Selama krisis air bersih tak tertuntaskan, selama itu pula Tanah Bontoa menjadi tanah gersang sebagai karya yang utuh dalam laga perpolitikan,” tutupnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros, dalam hal ini Kepala Bagian Humas A. Darmawati, mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan segala upaya untuk menuntaskan bencana kekeringan yang setiap tahunnya melanda pesisir Kecamatan Bontoa.

“Untuk pembangunan pipanisasi ini sendiri Pemerintah akan menggelontorkan anggaran senilai Rp5 miliar. Pengerjaannya pun akan melibatkan Dinas Pekerjaan Umum (PU) agar Pemkab bisa lebih leluasa menggelontorkan anggaran untuk menangani persoalan krisis air bersih ini. PDAM tidak dilibatkan lantaran bukan Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD),” katanya.(*)