Screenshoot aksi pengeroyokan

Ibu Pelaku Pengeroyokan Terhadap Guru SD di Gowa Bantah Pertanyaan Korban

Jumat, 06 September 2019 | 11:15 Wita - Editor: Muhammad Fardi - Reporter: Junaid - Gosulsel.com

GOWA, GOSULSEL.COM – Rahmatiah, Ibu pelaku pengeroyokan terhadap salah seorang tenaga pendidik Sekolah Dasar (SD) Inpres Pabangiang angkat bicara.

Rahmatiah menganggap bahwa apa yang disampaikan oleh Asti tenaga pengajar di SD Inpres Pabangiang yang menjadi korban pengeroyokan adalah bohong.

muhammad-ismak

Menurut Rahmatiah, awal mula kejadian tersebut adalah karena anaknya yang masih duduk di kelas 5 SD di sekolah tersebut yang sering dipukul.

“Anak saya, dipukul setengah mati oleh temannya. Anak saya sudah mengadu ke guru, tapi anak saya justru yang dimarahi oleh guru. Makanya saya melapor ke kepala sekolah saya kasi kaget itu anak, dan saya jewer itu anak,” kata Rahmatiah



Bahkan Rahmatiah mengaku pihak sekolah tidak adil dalam perkelahian yang dialami putranya. Karena merasa tidak adil, Rahmatiah melaporkan ke kepala sekolah. Saat di ruang kepala sekolah, Rahmatiah mengaku guru Astia menyeretnya menuju ke ruangan kelas.

Ia juga menyebutkan bahwa video pengeroyokan yang beredar dengan latar belakang di ruangan kelas tersebut, tidak sepenuhnya terekam. Justru saat itu, kejadian tersebut terjadi saat jam istrirahat.

“Ibu guru yang dipukul tadi itu menyeret saya ke ruangan kelas. Dan itu terjadi pada saat (jam) bermain. Bukan saat jam belajar,” ungkapnya.

Namu Rahmatiah mengakui perbuatannya. Menurutnya hal tersebut sengaja ia lakukan untuk mengangetkan siswa yang lain. Bahkan ia mengakui bahwa dua orang wanita NV) dan APR yang melakukan pengeroyokan dalam video yang beredar tersebut adalah anaknya.

“Jujur saya emosi. Jadi saya kasi kaget itu anak-anak. Akhirnya saya bicara sama guru ini (Astiah) tidak direspon. Justu saya didorong oleh guru itu dan disuruh pulang,” ujarnya.

Sementara itu dari keterangan pihak sekolah, Kepala SD Inpres Pabangiang Nurjannah mengatakan bahwa pihaknya sengaja membawa keluarga siswa keruangan untuk menyelesaikan permasalah secara baik-baik.

“Setelah itu, guru tersebut itu (Astia) memanggil oraug tua ke ruangan kelas untuk menyelesaikan. Ternyata bukan penyelalesaiain malah lebih para dari itu,” jelas Nurjannah.

Pihak sekolah juga mengaku bahwa kedua siswa yang berkelahi sudah didamaikan. “Katanya kajadiannya hari Selasa terus pada hari itu juga gurunya mendamaikan siswa tersebut. Entahlah bagaimana setelah pulang dari rumah apakah cara melapornya ke orang tua atau bagaimana sehingga orang tuanya siswa itu datang pada hari Rabu kemarin pagi-pagi jam istirahat,” tambahnya.

BACA JUGA