#

Derita Anak Sekolah Sinjai Borong

Kamis, 17 Oktober 2019 | 11:01 Wita - Editor: Muhammad Fardi - Kontributor: Izhar - Gosulsel.com

SINJAI, GOSULSEL.COM – Sungguh miris nasib anak-anak sekolah di Kampung Paniki, Desa Barambang, Kecamatan Sinjai Baorong, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Kamis, (17/10/2019).

Sejumlah Madrasah Ibtidaiyah Swasta AL Khaerat Barambang belajar dalam kelas di gubuk kayu yang merupakan satu-satunya sekolah setingkat SD yang ada di kampung mereka.

muhammad-ismak

Sekolah ini merupakan kelas jauh MIS Al-Haerat Barambang yang berlokasi di Paniki, sebuah kampung terpencil yang terletak kawasan pegunungan Dusun Bolalangiri, Desa Bontokatute, Kecamatan Sinjai Borong yang jaraknya sekitar 60 kilometer dari ibu kota Kabupaten Sinjai.

Kelas satu hingga kelas enam sama-sama duduk melantai lantaran sekolah gubuk kayu ini tidak memiliki kursi untuk digunakan murid.

Kursi di sekolah ini hanya dua buah yang diduduki guru saat mengajar. Sementara murid duduk melantai menggunakan meja triplek untuk menulis.

Dinding sekolah ini yang terbuat dari kayu dan bambu, pun sebagian sudah lapuk karena dimakan rayap.

Kampung Paniki, hanya dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua, namun bila musim hujan, harus dengan berjalan kaki dengan waktu tempuh satu jam lebih dari jalan poros Desa Bontokatute.

Kelas jauh ini kini memiliki 22 murid yang diajar hanya dua orang guru. Sementara, alumni pertamanya, saat ini sudah duduk di bangku kelas tiga SMA Sederajat

Rudi, Murid kelas jauh Mis Alkhaerat Barambang Sinjai mengatakan tak ada pilihan lain untuk mendapat pendidikan dasar kecuali di Sekolah ini.

“Ada sekolah lain tapi jauh saya sudah kelas lima, saya mau jadi polisi,” katanya.

Menurut seorang guru, Muhammad Yusuf, sebelum kelas jauh ini ada, anak kampung paniki tak ada yang bersekolah.

Bangunan sekolah kelas jauh Mis AL-Khaerat Barambang dibangun dari swadaya masyarakat kampung Paniki 7 tahun silam.

Saat itu, seorang warga meminjamkan lahannya karena ingin anak-anak mereka mengeyam pendidikan dasar.

Sekolah terdekat dari kampung ini jaraknya 4 kilometer yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Muhammad Yusuf rela bertahan mengajar di sekolah ini, meski dengan gaji yang jauh dari kata layak, yakni hanya 400 ribu rupiah yang per tiga bulan.

“Karena kita tahu sekarang kan kalau gaji 400 ribu tidak bisa hidupi keluarga, betah mengajar karena keikhlasan, perihatin ya kalau saya tinggalkan berarti dia tidak sekolah,”terangnya.

Lanjutnya, Kondisi bangunan yang memprihatinkan dan kursi murid yang tidak tersedia, sarana perpustakaan, lapangan sekolah, bahkan toilet tak dijumpai di sekolah gubuk kayu ini.(*)


BACA JUGA