FOTO: Evi Mahmud, gadis asal pinrang yang putus sekolah dan sekarang bekerja sebagai kuli pasir/Ist
#

Putus Sekolah Jadi Kuli Pasir, Cerita Gadis Manis Pinrang Bertahan Hidup

Rabu, 20 November 2019 | 23:27 Wita - Editor: Muhammad Fardi - Fotografer: Erik Didu - Go Cakrawala

PINRANG, GOSULSEL.COM – Rabu pagi, saat usia sebayanya duduk ruang-ruang kelas melanjutkan pendidikan, Evi Machmud (22 tahun), gadis manis di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan melah berada di tambang pasir dan kerikil yang terletak tidak jauh dari belakang rumahnya, di kampung Pakoro Desa Massewae Kecamatan Duamapanua Kabupaten Pinrang, Rabu (20/11/2019).

Evi bulat putus sekolah saat duduk di kelas 1 MAN Pinrang, saat itu tahun 2016. Biaya sekolah dan tekanan biaya hidup sehari-hari menjadi alasan gadis berambut panjang lurus ini mengurungkan cita-citanya. Kini dia menjadi kuli pasir. Setiap hari menaikan pasir ke mobil truk secara manual.

muhammad-ismak

“Saya begini karena tuntutan untuk bertahan hidup. Saya berhenti sekolah karena butuh biaya, sedangkan untuk dimakan sehari-hari saja harus kerja keras,” kata Evi sambil membasuh keringat dipipinya.

Meski dengan wajah kelelahan bercucuran keringat, Evi terlihat memaksakan diri mengangkat pasir menggunakan skop. Untuk satu rek pasir, dia hanya diberi upah Rp.15.000,-. Setiap harinya Evi hanya mampu mengisi dua rek truk, kadang hanya satu jika kondisi tubuh tidak sehat.

“Saya dikasi Rp15.000,- satu rek. Jadi biasa juga saya ambil dua rek kadang juga cuma satu kalau lagi sakit. Karena saya juga sebenarnya ada penyakit, biasanya tiba-tiba sakit kepala,” ungkapnya sambil menunduk.

FOTO: Evi Mahmud saat bekerja mengangkat pasir ke truk di salah satu tambang yang terletak tidak jauh dari rumahnya/ist

Dia sama sekali tidak pernah merasa malu dengan pekerjaannya saat ini. Tak peduli kata orang, begitu prinsip wanita dengan tahi lalat dibagian pipi ini. Jika tak kerja, maka tak makan.

“Saya kerja hanya bertahan hidup. Jadi penghasilan sehari-hari digunakan beli beras dan beli lauk di rumah. Saya bantu orang tua, kadang ada yang ditabung tapi baru-baru ini atap rumah bocor jadi tabunganku saya gunakan perbaiki atap rumah,” ungkapnya.

Evi tinggal serumah dengan ibunya Marianti dan satu saudaranya. Saat masih bayi, Evi ditinggal oleh ayahnya. Ibu dan ayahnya cerai saat Evi masih menyusui.

Ibunda Evi, Marianti mengaku sangat sedih melihat anaknya terus bekerja kasar. Beberapa kali dia melarang Evi untuk bekerja jadi kuli, tapi dia tak pernah dipedulikan.

“Evi selalu bilang, kalau dia harus bantu mama. Ada sebenarnya sebidang sawah yang dipinjamkan keluarga untuk digarap. Tapi alasannya Evi selalu bilang harus ada penghasilan tiap hari karena tiap hari juga ada kebutuhan. Jadi kalau saya ke sawah, Evi biasa juga berangkatmi ke sungai tempatnya bekerja,” kata Marianti dengan mara berkaca-kaca.

Marianti kadang tak kuasa menahan air mata kala menyaksikan anaknya terbaring lemas setelah pulang dari bekerja. Saat Avi mengeluh sakit pinggang dan kepala, Marianti biasa bersembunyi menumpahkan air mata melampiaskan kesedihannya.

“Kalau pulang biasa bantu urus-urus pekerjaan rumah. Tapi sering sakit pinggang dan kepalanya. Biasa terbaring di tempar tidur kalau pulang kerja. Biasa sedih sekalika liat,” tandasnya.(*)