#

Paranggi Kuliner Khas Bulukumba yang Ciamik

Senin, 23 Desember 2019 | 07:15 Wita - Editor: Muhammad Fardi -

BULUKUMBA, GOSULSEL.COM – Bulukumba tidak hanya dikenal dengan destinasi wisata yang penuh identitas, di tanah yang bertajuk Bunta Panrita Lopi ini, juga dikenal dengan berbagai kuliner khas dengan olahan tradisional.

Salah satunya adalah paranggi, kuliner yang ciamik berbahan dasar tepung terigu, telur dan gula merah. Kue yang sering ditemukan di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sul-Sel) ini merupakan jajanan kue lembab, sejenis bronis.

Gula merah yang dicairkan lalu dituang ke dalam tepung terigu menjadikan paranggi gurih, rasa manisnya sangat kental. Sangat pas dihidangkan bersama kopi dan teh hangat.

Jika dilihan proses olahannya, membuat paranggi tidaklah muda, wadah pembakaran berupa wajan sangat jarang ditemukan. Harus buat khusus oleh ahlinya.

Wajan ini terbuat dari tanah. Jika ingin dengan hasil yang maksimal dibakar menggunakan arang. Tapi tidak seperti wajan pada umumnya. Di wajan itu ada beberupa lubang yang menjadi cetakan paranggi. Penutupnya juga terbuat dari tanah liat yang dipadatkan.

Salah satu pedagang kue paranggi di Kelurahan Tanete, Kecamatan Bulukumpa, Bulukumba, Mari setiap harinya bisa memproduksi 200 biji Paranggi. Jumlah itu diproduksi secara tradisional selama kurang lebih 4 jam.

Satu biji paranggi dijual seharga Rp1.000. Jika dijajan di pagi hari, kadang tidak hanya sampai 4 jam sudah laku terjual. 

“Rata-rata pembeli orang lewat, pengguna jalan,” kata Mari. Sabtu, 21 Desember 2019.

Dia mengatakan, saat ini sudah jarang yang tau membuat paranggi. Apalagi alat pembuatan sudah sangat jarang ditemukan. 

“Adonanya harus pas untuk menghasilkan kue yang enak. Gula merah dan telurnya harus pas, kalau tidak sesuai takaran, biasanya terhabur, tidak renyah. Kadang keras,” kata dia.

Dulu, kata dia kue paranggi ini merupakan makanan istimewah pada setiap hajatan pesta. Dihidangkan untuk tamu-tamu khusus.

“Kalau orang tidak biasa, pasti bilang susah sekali dan lama cara pembuatannya. Tapi kalau sudah biasa, sudah santai,” kata dia.(*)