Ilustrasi (Internet)

Rokok Jadi Penyebab Tertinggi Stunting di Gowa

Senin, 10 Februari 2020 | 15:24 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Junaid - Gosulsel.com

GOWA, GOSULSEL.COM — Rokok menjadi salah satu penyumbang penyebab tertinggi stunting di Kabupaten Gowa. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD), Muh Asrul.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD), Muh Asrul



“Penyebab tertinggi stunting di Gowa adalah rokok. Itu indikator penyebab tertinggi dari sekian penyebab stunting,” ujar Muh Asrul.

Muh Asrul menyebutkan saat ini Pemerintah Kabupaten Gowa tengah fokus terhadap penanganan stunting. Pemkab Gowa melibatkan sejumlah sektor, seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD), Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Sosial (Dinsos), Dinas Pendidikan (Disdik), Dinas Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana (DPPKB), hingga kader-kader Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Muh Asrul menjelaskan bahwa pelibatan sejumlah sektor dalam penanganan stunting, karena menurutnya bahwa stunting di Kabupaten Gowa bukan hanya tanggung jawab Dinkes tapi menjadi tanggung jawab bersama.

Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa Dinas PMD menyiapkan anggaran untuk stunting. Khusus di PMD sudah dilakukan sosialisasi dan sudah dilakukan pelatihan secara berjenjang mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, kelurahan dan desa dalam rangka pencegahan stunting. 

“Alhamdulillah kita juga sudah bentuk setiap desa yakni kader pembangunan manusia yang akan mengawal posyandu-posyandu yang ada di semua desa. Kita berharap bahwa orang hamil memeriksakan kehamilannya di posyandu minimal empat kali pada masa kehamilan begitu juga pada anaknya ketika lahir harus juga diperiksa kondisi anaknya di posyandu, melakukan penimbangan, pengukuran dan melihat status gizinya,” jelasnya.

Muh Asrul menilai bahwa kelemahan yang ada selama ini yang ditemukan di lapangan adalah kurang sadarnya masyarakat atau ibu hamil memeriksa kandungannya begitu juga kesehatan bayinya di Posyandu.

“Kalau ada orang hamil yang tidak memeriksakan kandungannya maka harus dikunjungi rumahnya, begitu juga untuk balita. Jadi tidak ada lagi alasan kader-kader Posyandu di desa untuk tidak turun ke rumah warga dengan alasan bahwa saya (kader posyandu, red) tidak bisa kunjungi karena tidak ada uang bensin atau uang transpor,” ungkapnya.

“Biaya transpornya kita telah siapkan dalam ADD desa, jadi tidak boleh lagi ada alasan. Pemerintah desa sudah siapkan itu. Insha Allah tahun ini kita sudah bisa tangani maksimal stunting itu,” tandasnya.(*)