Pedagang kue tradisional dan sayuran di Pasar Induk Minasamaupa Sungguminasa Kabupaten Gowa, Selasa (7/4/2020)/ Sandi Darmawan

Cerita Pedagang di Pasar Sungguminasa Berjualan di Tengah Wabah Corona, Takut Diusir Dari Kontrakan

Selasa, 07 April 2020 | 13:20 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Sandi Darmawan - Gosulsel.com

GOWA, GOSULSEL.COM — Sejak merebaknya Virus Covid-19 di berbagai kabupaten di Indonesia pada awal Maret kemarin, baik pemerintah pusat hingga daerah serentak membatasi aktivitas warganya. Tidak terkecuali di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Pemerintah Kabupaten Gowa, telah jauh hari memberikan imbauan agar masyarakat tidak melakukan perkumpulan massa dan keluar rumah demi memutus mata rantai virus tersebut. Imbauan itu banyak diberitakan di berbagai media online dan cetak.

Namun, hal itu tentu tak bisa dijalankan oleh semua orang terutama mereka yang mencari rezeki penghidupan di keramaian massa seperti pasar untuk berdagang. Mereka yang tak mengenal istilah bekerja dari rumah.

Semisal Dg Kanang lelaki 73 tahun, yang hampir setiap harinya berjualan Rapppocidu’ (Nangka Muda) yang biasanya diolah untuk membuat sayur dengan santan kelapa. Ia tetap berdagang di Pasar Induk Minasamaupa, Sungguminasa Gowa di tengah wabah Covid-19.



Ia tak punya pilihan lain, setiap pagi sehabis melaksanakan salat subuh di kediamannya yang berada di Jln. Poros Malino sekitar 2 KM dari pasar tersebut, ia mengemasi nangka muda jualannya untuk di bawah ke pasar.

“Kita mau makan apa kalau tidak pergi menjual,” tuturnya sembari mengiris-ngiris kecil Rapppocidu’ membentuk segitiga di atas meja lapaknya, Selasa (7/4/2020).

Selain alasan kelangsungan hidup bersama untuk istri dan 3 anaknya, Dg Kanang juga mengakui bahwa selama ini hanya berdaganglah yang ia mampu untuk menghasilkan uang.

“Kita mau jadi tukang, sudah tidak kuat angkat pasir atau semen, makanya tetap menjual saja, mau ada Corona ataupun tidak,” lanjutnya dengan sedikit bercanda.

Ia mengaku bahwa setiap harinya bila badannya terasa sehat, ia berjualan hingga pukul 10 – 11 siang. Terkadang jualannya habis lebih cepat. Saat merasa tidak enak badan, ia digantikan istirnya berjualan di tempat yang sama.

“Tergantung, kalau cepat habis, cepat juga pulang ke rumah untuk istirahat,” ujar ayah 3 anak itu.

Setiap sore sehabis istirahat sejenak di rumahnya setelah berjualan, ia berkeliling di Pattalassang, untuk membeli nangka muda dari petani lokal.

Satu buah nangka muda ukuran sedang   biasanya ia beli seharga 30-40 ribu, lalu ia jual kembali dengan membagi beberapa potong untuk di jual dengan harga 7 ribu perpotong. Setiap buah nangka biasanya ia bagi menjadi 8-10 bagian.

“Jadi paling untungnya 100-150 saja perhari, karena saya hanya bisa ambil 3-5 buah saja, karena kurangnya modal, tapi tetap syukur saja bisa dipakai untuk biaya hidup dengan keluarga saya,” tuturnya.

Ia tak sendiri, pedagang lainnya juga menuturkan alasan yang hampir serupa, memenuhi kebutuhan hidup. Jamal Dg Sibali, lelaki 67 tahun yang berjualan kue tradisional Buroncong, tak jauh dari lapakan Dg Kanang.

Dg Sibali nama yang kerap disebut oleh pembelinya, menuturkan bahwa setiap harinya ia juga berjualan kue yang berbentuk setengah lingkaran itu demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sebagai kepala keluarga, ia punya tanggung jawab besar, untuk istri dan anak tunggalnya, Ahmad. Ia mengaku harus membayar kontrakan setiap bulannya, karena rumah pribadinya dulu telah dijual untuk menutupi hutangnya, karena usahanya bangkrut.

“Sebelum jual begini saya dulu jualan rempah-rempah di dalam pasar, Tapi karena pernah tertipu dan bangkrut. saya mulai lagi dari nol,” katanya.

Sejak 2016, ia menjajakan kue yang terbuat dari bahan tepung beras dan kelapa parut itu. Hasil dari jualannya tidak banyak, hanya berkisar 120-160 ribu perhari.

Dari keuntungan itu, ia sisipkan beberapa untuk menyambung kontrakannya yang ia sewa seharga Rp700 ribu perbulan di Kecamatan Pallangga, berkisar 4 KM dari pasar tersebut. Sisanya ia gunakan untuk belanja kebutuhan sehari -hari.

“Kalau saya takut berjualan karena Corona, saya lebih takut kalau diusir dari kontrakan saya. Anak dan istri saya mau saya simpan di mana,” katanya lagi.

Ia tak menampik, bahwa selama wabah Corona ia tahu sudah menjangkit beberapa masyarakat di Gowa. Ia terkadang merasa cukup khawatir, apabila ia juga tertular karena bersentuhan langsung dengan beberapa orang setia harinya.

Namun, ia juga tak punya penghasilan lain selain berjualan, makanya ia tetap berjualan kue itu. Demi melanjutkan sisa hidupnya bersama istri dan anak tunggalnya.

Sebelum beranjak berjualan dengan mendorong gerobak jualannya ke pasar pada pagi hari, ia mengaku bahwa belakangan ini istrinya, Saripa 56 Tahun selalu mengingatkan untuk menjaga diri saat jualan.

“Istri saya selalu ingatkan untuk hati-hati, karena kalau saya sampai sakit tentu mereka juga kena imbasnya, mereka tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga,” ia menutup.

Untuk sebagian orang yang memiliki kerjaan yang cukup baik, dengan berdiam diri dan bekerja dari rumah adalah alternatif yang bisa dijalankan dengan mengandalkan teknologi yang ada.

Berbeda dengan Dg Kanang dan Dg Sibali, mereka harus tetap berjualan meski terus dihantui rasa takut terjangkit virus, beberapa orang yang bernasib sama tentu merasakan hal serupa. Bahwa berjuang demi keluarga adalah pilihan untuk tetap bisa bertahan hidup di tengah wabah Corona ini.(*)