Kabupaten Grobogan Provinsi Jawa Tengah melakukan panen raya untuk komoditas padi dan jagung

Petani Grobogan Rotasi Tanaman Pangan Usai Panen Raya

Sabtu, 11 April 2020 | 15:34 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

GROBOGAN, GOSULSEL.COM — Di tengah pandemic Covid-19, Kabupaten Grobogan Provinsi Jawa Tengah melakukan panen raya untuk komoditas padi dan jagung. Banyak daerah di Indonesia kini mulai memasuki masa panen untuk komoditas padi dan jagung.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Edhie Sudaryanto menjelaskan luas panen padi Kabupaten Grobogan pada bulan Maret seluas 36.946 hektar dan April seluas 4.454 hektar dengan harga gabah kering panen Rp4.000 sampai Rp4.500 per kilogram. Sementara luas panen jagung di bulan Maret seluas 1.954 hektar dan April seluas 983 hektar.

“Setelah melaksanakan panen ternyata para petani di Kabupaten Grobogan sudah siap-siap melakukan kegiatan tanam kembali tapi kali ini tidak langsung menanam komoditas padi dan jagung tetapi merotasikannya dengan menanam kacang hijau dan kedelai,” demikian dikatakan Edhie di Grobogan, Sabtu (11/4/2020).

Ia menjelaskan rotasi tanaman dipilih para petani di Kabupaten Grobogan karena memiliki banyak manfaat. Diantaranya adalah dapat meningkatkan kesuburan tanah, memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar dan mampu memutus siklus hama dan penyakit pada tanaman.



Sementara itu, salah satu ketua poktan di Kabupaten Grobogan, Slamet mengatakan
Kementan sangat mendukung kegiatan rotasi atau pergiliran tanaman tersebut sebagai salah satu cara melakukan diversifikasi tanaman pangan. Hal tersebut juga untuk mendukung keberlanjutan pemanfaatan lahan pertanian sehingga produktivitas pangan dapat terjaga dengan baik.

“Kacang hijau dan kedelai banyak ditanam di daerah kami dan harganya pun cukup bagus di pasaran,” katanya.

Daniar, salah seorang penanggung jawab kegiatan di Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Jawa Tengah menyebutkan program rotasi tanaman usai panen raya ini disambut baik pemerintah daerah juga petani yang tergabung dalam poktan atau gapoktan.

“Saya rasa bagus untuk petani yang biasanya menanam kacang-kacangan setelah musim panen padi dan bisa mendukung pergiliran tanaman sebagai upaya pencegahan hama dan penyakit tanaman,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Edy Purnawan mengutarakan Kementan memiliki dua kegiatan utama dalam upaya menekan serangan baik hama maupun penyakit pada tanaman aneka kacang dan umbi. Pertama melakukan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT) kacang kacangan dan umbi umbian dan yang kedua adalah Gerakan Pengendalian (Gerdal) kacang kacangan dan umbi umbian.

“Baik kegiatan PPHT maupun Gerdal mengedepankan teknik, cara budidaya dan pengelolaan hama penyakit secara ramah lingkungan dan berkelanjutan. Beberapa sarana yang digunakan meliputi pupuk organik cair, penggunaan benih unggul, serta agens pengendali hayati dari golongan cendawan maupun bakteri,” sebutnya.

Kedua, lanjut Edy, kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan di 21 provinsi yang merupakan daerah penghasil aneka kacang dan umbi yang tersebar di Indonesia. Harapannya dengan kegiatan ini petani poktan/gapoktan bisa mengelola keberadaan hama penyakit melalui cara-cara yang sehat serta semangat lagi dalam membudidayakan tanaman kacang dan umbi.

“Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pelayanan yang prima bagi petani karena mereka ujung tombak ketahanan pangan negara kita,” terangnya.

Selain itu, dikatakan Edy, hal ini juga sejalan dengan kebijakan Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi untuk mengembangkan integrated farming dan menuju ke arah zero waste, pola-pola diversifikasi tanaman, rotasi tanaman dan pertanian terpadu untuk terus ditumbuh-kembangkan.

“Termasuk untuk mengoptimalkan lahan dengan menanam kacang-kacangan, sayur dan refugia di setiap pematang sawah,” pungkasnya.(*)


BACA JUGA