Kelapa/INT

Tiga Bulan Terhenti, Kelapa dan Produk Turunan Asal Karimun Kembali Pasok Malaysia

Rabu, 15 April 2020 | 19:29 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

KARIMUN, GOSULSEL.COM — Petani kelapa di Tanjung Balai Karimun kini boleh kembali bernafas lega. Pasalnya, dalam dua hari kemarin, Senin – Selasa (13 sampai 14 April) produknya mulai kembali memasok pasar ekspor di negeri Jiran, Malaysia.

Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Tanjung Balai Karimun mencatat semenjak wabah pandemi Covid-19 merebak di awal tahun 2020, fasilitasi ekspor baik kelapa bulat, bungkil kelapa dan air kelapa yang melalui Pelabuhan Tanjung Batu terhenti sama sekali.

“Alhamdulilah, dalam dua hari kemarin mulai kembali masuk permohonan pemeriksaan kepada kami. Dan telah dapat disertifikasi sesuai persyaratan ekspor negara tujuan,” kata Priyadi, Kepala Karantina Pertanian TB Karimun saat menyerahkan sertifikat kesehatan tumbuhan kepada eksportir, PT. Saricotama Indonesia dikantornya, Rabu (15/4/2020).

Pengiriman perdana di tengah pandemi ini juga tidak tanggung-tanggung. Sebanyak 80 ton kelapa bulat dan 23 ton air kelapa dengan total nilai ekspor Rp1,2 miliar.



“Harapannya, ini menjadi awal untuk pengiriman selanjutnya mengingat produksi yang melimpah, cukup untuk konsumsi masyarakat sekaligus bisa diekspor dengan harga yang lebih tinggi tentunya,” tambah Priyadi.

Di tengah kondisi ekonomi yang masih terbelenggu dengan pembatasan gerak akibat Covid-19, Priyadi menyebutkan adanya pertumbuhan permintaan ekspor terhadap komoditas unggulan ekspor baru atau emerging product asal Karimun.

Yang mendominasi adalah komoditas bungkil kelapa, yakni tercatat pada triwulan I/ 2019 mampu membukukan ekspor sebanyak 1,1 ribu ton, meningkat 6,1% dibanding perolehan pada periode yang sama di tahun 2019 yang hanya 1,05 ribu ton.

Selain itu, Priyadi menyebutkan komoditasi sarang burung walet (SBW) asal Karimun juga sudah mulai masuki pasar ekspor secara langsung. Tidak perlu dikirim ke Surabaya atau Semarang untuk diproses kembali. Artinya secara kualitas kini SBW Karimun sudah dapat diterima di negara tujuan yang memiliki protokol ekspor yang ketat.

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil menyampaikan bahwa sesuai dengan perannya maka pihaknya melalui unit kerja diseluruh tanah air akan terus mendorong sinergisitas dengan para pemangku kepentingan pertanian baik di pusat maupun daerah. Agar pembangunan pertanian berbasis kawasan berorientasi ekspor dapat menjadi fokus kedepan.

Menurut Jamil, dalam kondisi pandemi saat inu, Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo, red) telah menginstruksikan agar menjaga stok produk pangan strategis seperti beras, jagung dan 9 kebutuhan pangan lainnya. Sementara, komoditas pertanian lain yang berlimpah dan sangat dibutuhkan dunia kita dorong untuk ekspor.

“Selain untuk menambah pendapatan negara melalui devisa, harapannya pasti adalah nilai tambah yang didapat berdampak pada kesejahteraan masyarakat, khususnya petani,” ungkap Jamil.(*)