Rumah Burung Hantu atau disebut Rubuha

Antisipasi Serangan Tikus, Kementan Ajak Petani Dirikan Rubuha

Kamis, 16 April 2020 | 23:53 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

SUBANG, GOSULSEL.COM — Mengantisipasi serangan hama tikus pada musim tanam kedua ini, Kementerian Pertanian melakukan sosialisasi salah satunya dengan mendirikan Rumah Burung Hantu atau disebut Rubuha. Rubuha ini bertujuan sebagai tempat tinggal dari burung hantu yang diketahui sebagai predator alami dari hama tikus sawah.

Salah satu kelompok tani yang akan menggunakan teknologi ini adalah Kelompok Tani Bungurjaya 1, Desa Pusakajaya, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang.

Karyono Ketua Kelompok Tani Bungurjaya I menjelaskan serangan tikus di musim tanam sebelumnya membuat dia dan kelompoknya mencari cara untuk mengatasi pengendalian tikus yang efektif.

“Serangan tikus pada musim tanam sebelumnya mencapai luasan 80 hektar. Hal ini cukup buat kami pusing,” demikian dikatakan Karyono, Kamis (16/4/2020).



Dibantu oleh petugas popt setempat Karyono dan anggotanya membangun Rubuha, Karyono berharap langkah ini dapat mengurangi hama tikus yang selalu menyerang.

Menurut Yadi Kusmayadi Fungsional POPT Balai Besar Peramalan Organisme Penganggu Tumbuhan (BBPOPT), ada beberapa beberapa faktor yang menyebabkan tidak berhasilnya pengendalian tikus adalah pertama tidak monitoring populasi hama tikus sehingga sering terjadi keterlambatan dalam mengantisipasi pengendalian, kedua musuh alami atau predator tikus seperti burung hantu dan ular sudah berkurang.

“Pembuatan Rubuha ini memudahkan burung hantu berburu tikus di sawah” tutur Yadi.

Agar Rubuha kuat dan tidak mudah roboh, tiang harus terbuat dari beton dengan pondasi cakar ayam sehingga tidak mudah roboh di tanah persawahan yang lembek. Tingginya sekitar empat meter dari permukaan tanah untuk memudahkan burung hantu mengintai buruannya dan efektif membawa hasil buruannya.

Berdasarkan fakta sepasang burung hantu dewasa bisa memakan 6 – 10 ekor tikus dalam semalam. Teknologi pemanfaatan burung hantu ini sangat cocok bagi petani selain mudah penerapannya, biaya yang dibutuhkanpun tidak mahal.

Senada dengan Yadi, saat berkunjung ke Karawang, Kepala BBPOPT, Enie Tauruslina Amrullah menjelaskan pemanfaatan burung hantu dapat meningkatkan efisiensi waktu petani. Enie mengatakan hal ini berdasarkan arahan Mentan SYL untuk memanfaatkan bahan sekitar sebagai pengendali OPT.

“Kedepan kita harus memanfaatkan musuh alami hama yang ramah lingkungan dan mengurangi bahan-bahan kimia aktif yang dapat menimbulkan residu yang berbahaya lingkungan dan juga manusia,” papar Enie.

Hal ini menurut Enie sesuai dengan arahan Dirketur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi bahwa dalam hal pengendalian OPT untuk menggunakan bahan alami sebelum alternatif terakhir dengan kimia.

“Upayakan dahulu dengan bahan yang ramah lingkungan, konsep budidaya tanaman yang sehat untuk konservasi lingkungan,” ungkapnya.

Selain itu Enie juga memaparkan kelebihan burung hantu sebagai musuh alami (predator) tikus antara lain burung ini dapat beradaptasi khusus (unik).

“Membuatnya berbeda dengan mahluk yang lain dan terkendalinya serangan tikus di daerah endemis,” tutupnya.(*)


BACA JUGA