Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor beberapa komoditas pertanian di Jalan Salodong, Makassar, hari ini, Rabu (22/4/2020)

Lepas Ekspor Mete dari Makassar, Mentan SYL Serukan Aktivitas Pertanian Tidak Boleh Berhenti

Rabu, 22 April 2020 | 14:23 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor komoditas pertanian kacang mete dan olahannya minyak CNSL (cashew nut shell liquid, red) berikut juga dengan komoditas lainnya seperti dedak gandum, merica dan cengkeh dengan total nilai ekspor komoditas sejumlah 23,7 miliar dari Salodong, Makassar, hari ini, Rabu (22/4/2020).

Pelepasan ekspor beberapa komoditas pertanian di Jalan Salodong, Makassar, hari ini, Rabu (22/4/2020)

“Hari ini kita melepas ekspor mete ke Eropa dan Amerika ada lima kontainer, dan terus ada pelet ke Cina dan itu sangat besar nilainya,” ungkap Mentan pada kesempatan tersebut.

Saat menyerahkan sertifikat karantina atau phytosantary certificate sebagai persyaratan negara tujuan, lebih lanjut Mentan mengungkapkan ekspor komoditas pertanian kali ini merupakan bentuk nyata kegiatan sektor pertanian yang dilakukan mendukung perekonomian dengan memperhatikan protokol kesehatan secara ketat di tengah merebaknya wabah Covid-19.

“Mete itu lebih banyak dikerjakan dengan padat karya dari orang-orang untuk memastikan pangan harus tetap tersedia, dan disitulah posisi kami hari ini demi kepentingan-kepentingan secara menyeluruh. Aktivitas pertanian tidak boleh berhenti, namun tetap harus memperhatikan kesehatan,” jelas Mentan.



Sudah menjadi gambaran nyata di tengah masyarakat saat ini wabah Covid-19 memang tidak hanya berdampak kepada kesehatan, tetapi juga kepada ekonomi secara global.

Oleh karena itu Mentan menjelaskan kegiatan ekspor kali merupakan jalan keluar mendukung perekonomian dengan mengorientasikan medical solution juga sekaligus bertujuan kepada ketahanan pangan masyarakat.

“Padat karya disini saja ada 1.200 orang, perekonomian pertanian tetap jalan. Kita lihat disini mereka mengikuti manual manual kesehatan yang ada, cuci tangan pun (di wastafel) dilakukan tidak boleh kurang dari satu meter,” tambahnya.

Lebih lanjut Mentan mengungkapkan dukungannya terkait pengembangan komoditas mete yang banyak dihasilkan dari para petani di seluruh wilayah Sulawesi, Nusa tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur ini.

“Kegiatan pangan seperti ini harus di akselerasi. Ini tidak boleh berhenti, harus jalan terus, tapi harus mengikuti teknis-teknis kesehatan dari pemerintah. Mete ini hanya kita yang punya, kami harus membosster untuk lebih luas. Lahan-lahan mete harus diperkuat lagi, menjadi konsentrasi untuk 6 juta pohon kedepannya menjadi kerjasama kami,” tegas Mentan ketika memberikan sambutannya dengan memberikan angin segar kepada integrator komoditas hasil perkebunan ini.

Sementara itu disela-sela acara, Agung Wisnu Broto, manajer ekspor impor PT. Comextra Majora menjelaskan bahwa pihaknya didalam kegiatan usaha perbulan dapat mengirimkan 50 kontainer kacang mete ke berbagai negara tujuan eskpor.

“Isi per satu kontainer rata-rata sebanyak 16 ton. Kita mengirimnya hampir ke seluruh negara rata-rata sampai 50 kontainer perbulan. Kalau hasil olahan kulit mete jadinya minyak CNSL dikirim untuk permintaan Cina, Amerika, India dan Korea guna memenuhi kebutuhan bahan bakar non fosil, rata-rata hasilnya 21 ton perkontainer untuk satu harinya,” kata Agung memberikan keterangan.(*)