Pemilik Warung Gudeg Mas Toriq, Nita saat melayani pelanggan di Pasar Ramadan Mappanyukki, Selasa (28/4/2020)

Cerita Pedagang Takjil di Pasar Ramadan Mappanyukki, Merana karena Pandemi

Rabu, 29 April 2020 | 13:12 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Di sore hari pada Selasa (28/4/2020), tepatnya pukul 16.32 WITA, terik matahari tak lagi mencekik, awan-awan bergantian bermunculan. Ini pertanda, sang matahari kini mulai terbenam. 

Suasana Kota Makassar di sore itu tak seperti hari-hari sebelumnya. Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Hanya sedikit pula warga yang beraktivitas di luar rumah. Ini juga pertanda, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Makassar berlaku. 

Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar lagi kalang kabut. Penerapan kebijakan ini terpaksa harus dilakukan. Corona sebagai biang kerok mesti dilawan. Sebab, virus ini tak mengenal waktu menyerang. 

Bahkan, di saat memasuki bulan puasa, virus ini telah merusak segalanya. Berbagai aspek diserangnya. Termasuk suasana Ramadan di Makassar. Semuanya pun tak lagi sama seperti tahun lalu.



Dulu, di saat sore hari begini, biasanya banyak warga tengah berburu takjil untuk disantap saat buka puasa. Sasarannya ialah Pasar Ramadan. Surganya takjil ada di tempat itu. Ada banyak menu buka puasa yang bisa dijumpai. Jalangkote, hingga Es Buah semuanya tersedia.

Di Makassar, salah satu Pasar Ramadan yang menjadi primadona pemburu takjil ialah Pasar Ramadan Mappanyukki. Bertempat di Jalan Andi Mappanyukki, Kecamatan Mariso, aneka macam takjil tersedia. Puluhan gerai pun berjejer di tempat itu. Lagi-lagi pertanda bahwa para pedagang siap menerima puluhan hingga ratusan warga yang ingin membeli takjil.

Itu tahun lalu, dan semuanya telah berbeda. Corona benar-benar kejam. Pasar Ramadan Mappanyukki tak seramai dahulu. Sedikitnya hanya ada sekitar delapan pedagang yang bertahan dan mencoba melawan kejamnya Corona. Tentu saja, demi menafkahi keluarga di tengah pandemi ini.

Sungguh malang, meski bulan puasa, mereka hanya bisa meratapi nasib. Warga yang datang bisa dihitung jari. Imbasnya, omzet pun turun drastis. 

Seperti yang dirasakan salah satu pedagang yakni Desi. Lapaknya menyediakan aneka minuman segar buka puasa seperti Es Buah, dan Kolak Candil. Sayangnya, hanya sedikit produknya yang terjual. Sudah 10 tahun berjualan, baru kali ini ia merasa merana. Pendapatannya merosot sejak Corona melanda.

“Sepi sejak ada Corona, dan ini baru dua tadi pembeli. Dulu saya tidak pernah berhenti meladeni pembeli,” cerita wanita asal Gowa ini. 

Begitu pula dengan Nita. Pemilik Warung Gudeg Mas Toriq ini juga ikut merugi. Sejak ikut Pasar Ramadan, lapaknya selalu ramai. Gudegnya disebut menjadi menu andalan warga untuk buka puasa.

Semua hanyalah kenangan. Sama halnya lapak milik Desi, omzetnya juga anjlok hingga 40 persen pasca adanya Corona. Wanita asal Semarang ini berharap penyebaran virus tersebut segera hilang. Sehingga kondisi kembali sedia kala.

“Tahun sebelumnya, Alhamdulillah rame banget, mobil sudah macet banget. Tahun ini yah begini keadaannya, semoga Corona cepat berlalu,” harapnya sembari menunjukkan raut wajahnya yang ceria. (*)