Ekspor sabut kelapa Indonesia

Terus Meningkat, Ekspor Serabut Kelapa ke Cina 1,5 Ribu Ton

Rabu, 29 April 2020 | 12:43 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

CAKUNG, GOSULSEL.COM – Ekspor sabut kelapa Indonesia sangat prospektif untuk ditingkatkan. Hal ini seiring dengan meningkatnya permintaan produk turunan kelapa di pasar global sebagai bahan baku industri.

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Karantina Pertanian melakukan sertifikasi terhadap 100 ton serabut kelapa produksi asal Jawa Barat tujuan Cina. Total nilai ekspor serabut kelapa yang berasal dari petani Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis dan Pangandaran ini mencapai Rp396 juta.

Kepala Karantina Pertanian Tanjung Priok, Purwo Widiarto serahkan langsung sertifikat kesehatan tumbuhan atau Phytosanitary Certificate (PC) kepada PT. Nusantara Sukses Sentosa di Depo DNS Cakung, Jakarta Utara, Selasa (28/4/2020)

Kepala Karantina Pertanian Tanjung Priok, Purwo Widiarto serahkan langsung sertifikat kesehatan tumbuhan atau Phytosanitary Certificate (PC) sebagai persyaratan protokol ekspor negara tujuan kepada PT. Nusantara Sukses Sentosa di Depo DNS Cakung, Jakarta Utara, Selasa (28/4/2020).

Penyerahan ini dilaksanakan dengan tetap memperhatikan protokol pencegahan penyebaran Covid-19.



Purwo menjelaskan dari data tahun 2020 periode Januari – April, ekspor serabut kelapa mencapai 1,5 ribu ton senilai Rp8 miliar dengan negara tujuan terbanyak adalah Cina. Kemudian diikuti pelanggan pasar global lain yakni negara Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka hingga Jerman.

“Selama empat bulan terakhir, ekspor serabut kelapa terus menunjukkan peningkatan setiap bulannya, fenomena ini menggeser stigma bahwa serabut yang dulu dianggap limbah, kini malah mampu menyumbang devisa bagi negara,” ujarnya lagi.

Menurut Stanley Aliwarga selaku pihak yang dikuasakan oleh PT. Nusantara Sukses Sentosa, serabut kelapa meski termasuk dalam salah satu jenis limbah, namun dapat dimanfaatkan menjadi banyak hal seperti sebagai media tanam, antara lain di Korea dan Jepang.

Di Jerman, sejumlah perusahaan otomotif menggunakan sabut kelapa sebagai salah satu bahan baku jok mobil. Selain itu, sabut kelapa dimanfaatkan sebagai bahan dasar kerajinan, bahan bakar, pupuk organik dan briket, serta sebagai komponen alat penyaring air.

“Sejak awal tahun ini sesuai permintaan Cina, kami sudah mengekspor serabut kelapa yang telah disertifikasi oleh pihak Karantina Pertanian Tanjung Priok sebanyak 304 ton, dan jika dirupiahkan sekitar Rp 1,2 miliar,” tambahnya.

Berdasarkan data otomasi karantina pertanian, periode sepanjang tahun 2019 ekspor serabut kelapa tertinggi yaitu tujuan Cina dengan volume 5,4 ribu ton sebanyak 100 kali pengiriman. Diikuti ekspor tujuan Jepang dengan frekuensi pengiriman sebanyak 16 kali dan volume 972 ton. Selanjutnya diikuti negara tujuan Korea Selatan dengan volume 419 ton yang dikirim sebanyak 29 kali. Kemudian tujuan Thailand dengan volume 164 ton yang dikirim sebanyak dua kali. Diikuti Korea Utara sebanyak 18 ton dengan satu kali pengiriman. Selain itu tujuan Sri Lanka dikirim sebanyak 2 kali dengan volume 6 ton. Selanjutnya ekspor tujuan Afrika Selatan dengan volume 2 ton dan Jerman 0,25 kilogram dengan masing – masing satu kali pengiriman.

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil menyampaikan bahwa meski di tengah wabah Corona, aktivitas produk pertanian Indonesia tidak boleh berhenti. Hal ini sebagaimana arahan Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo, red) sebagai upaya mendukung perekonomian.

“Di tengah kondisi ekonomi yang melamban, alhamdulilah tidak menghambat sektor pertanian untuk terus berproduksi, salah satunya mengolah serabut kelapa ini. Hal ini juga sejalan dengan tetap tingginya permintaan komoditas pertanian Indonesia di tengah kondisi Covid-19,” ungkap Jamil.

Lebih lanjut, pihaknya akan terus menjamin komoditas pertanian sehat dan aman serta memberikan pelayanan fasilitasi ekspor komoditas pertanian untuk memenuhi permintaan pasar ekspor meski di tengah pandemi. “Kami siap mengawal agar produk ekspor agar lancar, sehat, aman dan berdaya saing. Dan sebaliknya produk pertanian yang masuk, sehat, aman dan layak dikonsumsi,” pungkas Jamil.(*)