Kabupaten Tebo, salah satu sentra produksi benih kedelai terbesar di Provinsi Jambi

Korporasi Benih Kedelai Tetap Berjalan di Tengah Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2020 | 16:06 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

TEBO, GOSULSEL.COM — Kabupaten Tebo merupakan salah satu sentra produksi benih kedelai terbesar di Provinsi Jambi. Di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda, tidak menyurutkan semangat Kelompok Tani Harapan Mulia, Desa Dusun Baru, Kabupaten Tebo untuk mengembangkan benih kedelai seluas 100 ha dalam rangka mendukung swasembada kedelai.

Bahtiar selaku Ketua Koperasi Kelompok Tani Harapan Mulya yang juga biasa mengopkup benih kedelai hasil petani Kabupaten Tebo mengatakan permintaan benih kedelai daerahnya cukup tinggi. Untuk tahun ini, permintaan benih kedelai kebutuhan program dari provinsi sekitar 220 ton, belum lagi permintaan dari provinsi lain seperti Kepulauan Riau, Pekan Baru, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat sementara sekitar 45 ton.

“Tebo ini satu-satunya wilayah yang menghasilkan benih berkualitas di wilayah Jambi, ya mungkin karena tanah dan pola budidaya petaninya yang mendukung,” demikian ujar Bahtiar, Selasa (5/5/2020).

Potensi pengembangan benih kedelai di Tebo mencapai 1.500 ha dengan indeks pertanaman mencapai 3 kali dalam setahun yaitu bulan Januari, Maret dan September. Bulan Maret dan April merupakan puncak penanaman benih kedelai karena didukung oleh iklim dan ketersediaan sumber air yang mencukupi.



“Dari hasil korporasi ini diperkirakan bisa mencapai 650 ton, dan tentu saja petani selalu siap memenuhi permintaan. Stok di koperasi yang masih tersedia sampai awal mei sekitar 24 ton, dan ini masih terus bertambah karena sebentar lagi juga ada yang panen,” ungkap Bahtiar.

Perlu diketahui, pada tahun 2020, Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo terus mendukung upaya penyediaan benih kedelai. Kementan mengalokasikan kegiatan Pengembangan Perbenihan Kedelai Berbasis Korporasi Petani seluas 500 ha. Kegiatan yang lebih akrab disebut “korporasi benih kedelai” ini memberikan paket bantuan berupa benih sumber, pupuk, pestisida serta sarana produksi lainnya.

Sebagai salah satu pelaksana kegiatan korporasi yang mendapat fasilitasi bantuan seluas 100 ha, tentu saja program korporasi benih ini disambut baik oleh petani karena bisa membantu biaya input produksi, apalagi dengan kondisi saat ini yang cukup berat bagi masyarakat terutama petani.

Dari hasil pengawalan Petugas Daerah dan Pusat menunjukkan bahwa tidak terdapat kendala yang berarti meskipun kondisi perekonomian yang cukup sulit. Kelompok tani telah melakukan penanaman sekitar 300 ha, sedangkan sisanya masih dalam proses penanaman. Kegiatan korporasi petani juga bertujuan untuk membangun kemitraan antara petani produsen benih dan off-taker (pembeli calon benih) sehingga saling mendukung satu sama lain. Petani menghasilkan benih berkualitas dan off-taker memberikan jaminan harga sesuai kesepakatan.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi berharap melalui bantuan ini, petani dapat mengelola usaha perbenihannya secara komprehensif.

“Mulai dari hulu sampai hilir sehingga meningkatkan kesejahteraanya,” ujarnya.

Direktur Perbenihan, Takdir Mulyadi menambahkan kegiatan ini bertujuan untuk menyiapkan ketersediaan benih secara insitu sehingga dapat menekan biaya ongkos kirim (efisiensi input), kualitas dan mutu benih lebih terjamin. Sebab tidak melalui perjalanan distribusi yang panjang serta lebih adaptif terhadap lingkungan tumbuh dimana dikembangkan di daerah asalnya.

Selain itu, sambungnya, yang paling utama kegiatan tersebut adalah untuk menjawab kebutuhan benih kedelai baik pemenuhan program maupun swadaya petani ungkapnya. Selain di Kabupaten Tebo, kegiatan korporasi benih kedelai juga kita kembangkan di wilayah lain seperti Jawa Timur, NTB dan Sulawesi Selatan.

“Untuk tahap awal kita alokasikan 1.450 hektar, mengingat keterbatasan anggaran yang dialokasikan untuk penanganan Covid-19. Kedepan kita evaluasi dan kita kembangkan secara besar besaran di wilayah sentra kedelai lainnya,” beber Takdir.(*)