Mahasiswa yang tinggal di pelosok tepatnya di Dusun Salu Lompo Desa Rante Alang Kec. Larompong Kab. Luwu Sulawesi Selatan, saat mengikuti kuliah online
#

Cari Signal untuk Kuliah Online, Mahasiswa di Luwu Harus Mendaki Gunung

Rabu, 13 Mei 2020 | 13:39 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Kontributor: Eki Dalle - Gosulsel.com

LUWU, GOSULSEL.COM — Di tengah pandemi Covid-19, pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang diperbolehkannya belajar dan kuliah online di rumah.

Kebijakan kuliah online ini tentunya tidak bisa membuat semua mahasiswa mampu untuk melaksanakannya secara baik atau maksimal.

Seperti halnya beberapa mahasiswa yang tinggal di pelosok ini tepatnya di Dusun Salu Lompo Desa Rante Alang Kec. Larompong Kab. Luwu Sulawesi Selatan. Walaupun mereka semua lagi menjalankan ibadah puasa, demi untuk mengikuti kuliah online, mereka terpaksa harus naik di atas puncak gunung dengan menempuh jarak sekitar 7 km setiap harinya dan bahkan harus panjat pohon agar bisa mendapatkan jaringan internet.

Seorang mahasiswa memanjat pohon untuk ikuti kuliah online

Hal itu bukan tanpa alasan, karena desa yang mereka tempati itu, jaringan telepon dan sinyal internet di desanya belum terjangkau dengan baik.



Salah satu mahasiswi yang mengalami hal tersebut, Sartika, S. Si, salah seorang mahasiswi pasca sarjana dari perguruan tinggi swasta di Palopo menuturkan, ia dan teman-temannya terpaksa menempuh perjalanan selama satu jam dan mendaki gunung demi mendapatkan sinyal internet melalui telepon selulernya.

“Saya kuliah di Uncok Palopo kak, ada juga teman yang kuliah di IAIN Palopo, IAIN Pare-pare, STIMIK Akba makassar, dan Polimarim AMI Makassar, sebelum kami ke atas gunung biasanya kami urungan dulu untuk beli pulsa data sebelum kami bersama teman-teman mahasiswa di desa ini naik ke atas gunung,” ucapnya.

Lanjutnya, “Biasanya ketika mengikuti kuliah online mereka berangkat pagi hari. Itupun kalau tidak hujan, kalau hujan terpaksa kita tidak mengikuti perkuliahan,” tutur mahasiswi yang akrab disapa Tika itu.

Tika menuturkan bahwa walaupun sudah di atas puncak gunung namun terkadang signal internetnya putus-putus jadi teman mahasiswa bergantian untuk memanjat pohon agar signalnya bisa bagus, kemudian teman tadi menyalakan hotspot di ponselnya agar supaya teman mahasiswa yang lainnya bisa menggunakan jaringan internet yang baik dengan menyalakan wifi di hp masing-masing.

“Kebetulan banyak yang laki-laki jadi mereka gantian manjat ke atas pohon untuk mencari jaringan internet yang bagus,” ucap Tika depan media saat di lokasi, Senin (12/5/2020).

Tika juga menuturkan bahwa ia bersama dengan teman mahasiswa yang lainnya merasa kesulitan setiap harinya dalam melaksanakan kuliah online, pasalnya selain jaringan internet yang tidak mendukung, ditambah lagi tugas-tugas yang menumpuk apa lagi untuk mengerjakan tugas di atas gunung tidak ada alat bantu seperti meja ataupun pengalas untuk menulis.

“Suka dukanya banyak Kak, salah satunya kadang jika kita lambat tiba di atas puncak gunung, terpaksa dianggap alpa oleh dosen,” ucapnya.

Senada dengan Arfah Mahasiswa Polimar AMI Makassar saat ditemui media di tempat yang sama mengatakan bahwa demi untuk mengikuti kuliah online ini dirinya bersama teman yang lain berjuang ke lokasi itu setiap harinya karena satu-satunya tempat terdekat dari kampung kami yang dapat dijangkau jaringan internet itu yakni di pegunungan yang berbatasan langsung dengan Lindajang Kec Suli Barat itu.

“Mau diapa Kak, seperti inilah kenyataannya, walaupun kondisi lingkungan di tempat kami sangat tidak mendukung untuk mengikuti perkuliahan online kami tetap jalankan sebisa mungkin karena kita juga tidak mau ketinggalan mata kuliah,” ucapnya.

Arfah juga mengatakan bahwa biasanya ketika kuliah online selesai dosennya juga selalu memberikan tugas yang harus dikumpul hari itu juga, jadi dia bersama dengan teman yang lain pulang dulu ke rumah menjelang buka puasa dan mereka kembali lagi malam hari setelah salat teraweh.

“Kalau ada tugas kak, kami pulang dulu untuk berbuka puasa dan datang lagi di tempat ini pada malam hari setelah salat teraweh untuk masukan tugas lewat internet,” tutur Arfah.

Mahasiswa yang ada di Desa Rante Alang ini berharap ke depannya agar pemerintah bisa memberikan solusi atas apa yang mereka rasakan saat ini.

“Kami mahasiswa Desa Rante Alang sangat berharap pemerintah bisa memberikan solusi seperti menyiapkan fasilitas jaringan internet agar kami tak lagi kesulitan naik di atas gunung untuk mengikuti kuliah online.” ujarnya.(*)