Webinar Lembaga Riset IDI digelar dengan menghadirkan peneliti muda dan lintas negara, Minggu (17/5/2020)

Webinar Lembaga Riset IDI Hadirkan Peneliti Muda Indonesia dan Lintas Negara

Minggu, 17 Mei 2020 | 13:52 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Telah banyak upaya yang dilakukan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk menangani pandemik Covid-19 di Indonesia. Namun, tak ada data penelitian tentang Covid-19 dari Indonesia yang terpublikasi di jurnal ilmiah internasional.

Olehnya itu, Lembaga Riset IDI mengadakan web seminar (Webinar) dengan topik penanggulangan pandemik Covid-19 berbasis riset. Kegiatan tersebut berlangsung, Minggu (17/5/2020).

Ketua Lembaga Riset IDI, dr. Marhaen Hardjo, di tunjuk menjadi moderator dalam diskusi webinar ini. Tiga peneliti muda diundang sebagai narasumber. Diantaranya, Gita Vita Soraya dari Unhas, dan dr. Zulvikar Syambani Ulhaq dari UIN Malang memaparkan pengalaman publikasi internasional Covid-19. Kemudian dr. Sopiyudin Dahlan dari PT Epidemiologi Indonesia membawakan judul presentasi grand design penelitian Covid-19 IDI.

dr. Gita dan dr. Zul telah merilis 6 publikasi internasional tentang Covid-19. Suatu prestasi yang patut diapresiasi, meskipun masih berupa sistematik review dan meta analysis. Kedua peneliti muda ini menemukan tidak ada data Covid-19 dari Indonesia dalam kumpulan jurnal yang dianalisis. “Kami berharap kelak Indonesia juga punya data Covid-19 yang dapat dianalisis,” katanya. 



Panelis penanggap dalam kegiatan webinar Lembaga Riset IDI merupakan peneliti Indonesia dari lintas negara. Diantaranya, dr. Taruna Ikrar dari American College of Clinical Pharmacology, USA, dr. Dicky Budiman, kandidat PhD dari Griffith University, Australia. Serta 2 panelis dari Indonesia, masing-masing dr. Rina Agustina dari Human Nutrition Research Center IMERI FKUI dan dr. Rudiansyah dari Universitas Lambung Mankurat.

Para panelis memutuskan bahwa Indonesia harus memiliki data penelitian Covid-19 sendiri yang dapat diakses. Mereka berharap lembaga riset IDI dapat menginisiasi dan memfasilitasi penelitian tentang Covid-19 di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Taruna Ikrar.

“Kami menyatakan siap untuk mencari funding di Amerika untuk penelitian-penelitian fitofarmaka Indonesia untuk Covid-19,” ujarnya. 

Sementara itu, salah satu peserta Webinar, dr. Wachyudi Muchsin mengaku kegiatan ini merupakan salah satu webinar yang memberi manfaat bagi peserta dalam menghadapi pandemik Corona. Sebab, saat ini masuk kategori berbahaya dan jumlah kasusnya kian tinggi di Indonesia 

Webinar yang di ikuti 1115 peserta lintas negara ini dibuka oleh Ketua Umum PB IDI, dr. Daeng M. Fakih. Ia berharap Lembaga Riset IDI dapat menjadi barometer kemajuan riset bidang kesehatan di tanah air. “Ini lembaga baru di IDI, yang sudah berbadan hukum. Jadi sudah bisa mandiri,” katanya.(*)