Komentar Psikolog Soal Kasus Bully Penjual Jalangkote, Pelaku Merasa Berkuasa

Selasa, 19 Mei 2020 | 05:58 Wita - Editor: Dilla Bahar - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Perundungan atau dikenal dengan bullying menjadi salah satu persoalan besar di Indonesia. Tindakan atau perilaku menyakiti orang lain ini, marak dipertontokan oleh seseorang atau sebuah kelompok.

Salah satunya yang dialami oleh penjual jalangkote berinisial RL (12) di Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep. Ia harus menerima bullying dari salah satu remaja, yakni berinisial F (26). Bersama rekannya, F menunjukkan aksi yang tak terpuji tersebut kala Rizal sedang berkeliling desa menjajakan Jalangkote.

Aksinya tersebut terekam melalui video berdurasi 31 detik itu. Tak lama kemudian video tersebut viral di sosial media. Tak butuh waktu lama juga Kepolisian Sektor (Polsek) Ma’rang, meringkus F. Ia bersama rekannya harus mempertanggung jawabkan tindakannya tersebut.

Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) UNM, Eva Meizara Puspita Dewi turut berkomentar mengenai kasus tersebut. Ia menjelaskan bahwa bullying terjadi lantaran pelaku yang kerap merasa hebat diantara temannya. Sehingga, pelaku ingin memamerkan kehebatannya tersebut dengan cara menyakiti orang, baik dalam bentuk verbal maupun fisik.



“Karena pelaku merasa hero berkuasa dan merendahkan korban. Biasanya ini akan menjadi brutal jika pelaku berkelompok karena merasa disaksikan teman-temannya,” ujarnya, Selasa
(19/05/2020).

Lulusan Magister Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini juga mengatakan, penting bagi kerabat dekat atau keluarga yang memberikan edukasi kepada pelaku. Begitu pula dengan mereka yang sempat melihat aksi tersebut, sejatinya mereka mesti bertindak menghentikan aksi bullying itu sebelum masalahnya kian rumit.

“Tapi kalau ada yang mengingatkan satu orang saja maka lebih bisa terkendali. Yang menyaksikan peristiwa bully itu adalah bystender. Harusnya mereka mencegahnya kalau moral dan empatinya masih jalan,” tambahnya.

Adapun yang juga menyebabkan pelaku bertindak seperti itu karena ada beberapa faktor. Bisa saja, kata dia, karakter pelaku tersebut terbentuk lantaran dibesarkan di lingkungan yang tidak ramah. “Ini bisa dari faktor gen atau keturunan atau lingkungan, yakni dia dibesarkan dengan pola asuh yang penuh kekerasan,” pungkasnya.

Kendati demikian, aksi bullying sebenarnya bisa dihentikan. Sejak dini, pola asuh anak mesti diperhatikan dengan baik. Jika mereka di asuh dengan buruk, maka dikhawatirkan nantinya anak bisa melakukan hal yang sama seperti F. Butuh pengawasan dan didikan orang tua agar anaknya bisa berperilaku yang baik.

“Kembali start from home, bahwa perilaku anak di sekolah dan di masyarakat sebenarnya cerminan pola asuh yang ada di rumah. Jika anak diberikan kehangatan, maka dia akan memberikan kenyamanan pada orang lain,” jelasnya. (*)