Penyediaan benih padi Inpari IR Nutri Zinc

Kementan Inovasi Pengembangan Metode Tingkatkan Penyediaan Benih Padi Inpari IR Nutri Zinc

Jumat, 22 Mei 2020 | 13:56 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

DEPOK, GOSULSEL.COM — Jaminan mutu pada perbanyakan benih bersertifikat merupakan salah satu dukungan dalam ketersediaan pangan terutama di masa pandemi Covid-19. Hal ini sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat mencanangkan Gerakan Percepatan Tanam Padi dan Jagung serentak seluruh Indonesia di bulan Mei 2020 bahwa pangan harus selalu tersedia.

Tentang hal ini, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikuktura (BBPPMBTPH), Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan inovasi pengembangan metode yang bertujuan untuk peningkatan akurasi pemeriksaan lapangan proses sertifikasi benih padi sesuai OECD Seed Scheme. Kepala BBPPMBTPH, Warjito mengatakan program Inovasi Pengembangan metode yang dilaksanakn BBPPMBTPH bersama PT. Sang Hyang Seri (Persero) Kantor Unit Regional 1 di Sukamandi Subang ini dengan memanfaatkan lahan penelitian dan pengembangan seluas 10 hektar (ha).

“Kegiatan tanam benih padi kelas Benih Penjenis (BS) telah dilaksanakan pada minggu ke-2 bulan Mei 2020. Pada tahap pertama seluas 5,5 Ha ditanam Padi Varietas Ciherang dan Inpari IR Nutri Zinc,” demikian ujar Warjito di Cimanggis Depok, Jumat (22/5/2020).

Sebagai gambaran, sebut Warjito, benih padi Ciherang merupakan varietas yang tidak diragukan lagi keunggulannya yakni mampu beradaptasi berbagai kondisi alam, umurnya relatif lebih singkat dan beras yang pulen dan enak. Sedangkan Inpari IR Nutri Zinc adalah inbrida padi sawah irigasi yang memiliki kandungan zinc yang lebih tinggi dibanding varietas lain yang dibudidayakan, bermanfaat untuk pencegahan kasus stunting.



“Pada tahap kedua akan segera dilakukan penanaman juga seluas 4,5 hektar benih padi varietas mekongga dan inpari 30,” terangnya.

Warjito menjelaskan metode sertifikasi yang dihasilkan dari inovasi ini nanti berupa penggunaan bahan acuan karakteristik pembeda antar varietas yang akan dimanfaatkan oleh Pengawas Benih Tanaman. Ini digunakan sebagai acuan pemeriksaan di lapangan dalam rangka sertifikasi benih, serta benih bersertifikat yang dihasilkan yaitu benih padi kelas Benih Dasar (BD).

“Kegiatan ini secara langsung dapat meningkatkan penyediaan benih sumber padi dan hasilnya diberikan sebagai bantuan kepada produsen atau penangkar benih di daerah,” jelasnya.

“Penerima bantuan tersebut wajib mengembangkan lagi benih yang kelasnya dasar label putih dan selanjutnya melakukan revolving ke penangkar benih disekitar wilayahnya,” sambungnya.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi mendukung penuh kegiatan tersebut. Menurutnya perlu penyediaan benih secra mandiri oleh petani supaya biasa swadaya sendiri, terlebih untuk benih yang karakteristik khas seperti inpari nutri zinc pastinya lebih bernilai tinggi dan patut dikembangkan lebih lanjut.

“Dengan proses keberlanjutan tersebut Suwandi berharap kemandirian benih di lokasi dapat terwujud sehingga petani setempat memperoleh multiplier effectnya serta otomatis produksi padinya meningkat,” katanya.(*)