Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri Percepatan Tanam Padi bersama Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo dan Sekretaris Daerah Provinsi Jatim, Heru Tjahjono beserta Forkopimda Tulungagung di Desa Bangunjaya, Kec. Pakel, Kab. Tulungagung, Minggu (7/6/2020)

Wujudkan Ketahanan Pangan, Gubernur Jatim Percepat Tanam Padi

Minggu, 07 Juni 2020 | 20:44 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

TULUNGAGUNG, GOSULSEL.COM — Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa melakukan Gerakan Percepatan Tanam Padi pada musim tanam II atau musim kemarau guna mewujudkan ketahanan pangan. Ini sebagai langkah nyata agar terhindar dari krisis pangan sebagai dampak dari pandami Covid-19, bahkan FAO memberikan peringatan bahwa akibat pandemi ini, dunia akan mengalami krisis pangan.

“Percepatan masa tanam kedua padi tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi krisis pangan akibat kemarau panjang dan adanya pandemi Covid-19 di paruh kedua tahun 2020,” demikian dikatakan Khofifah pada acara Percepatan Tanam Padi bersama Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo dan Sekretaris Daerah Provinsi Jatim, Heru Tjahjono beserta Forkopimda Tulungagung di Desa Bangunjaya, Kec. Pakel, Kab. Tulungagung, Minggu (7/6/2020).

Gubernur Khofifah turun langsung melaksanakan tanam padi dengan sistem tanam jajar legowo dengan varietas inpari 42. Ia menegaskan Gerakan Percepatan Tanam ini menjadi momentum untuk kembali memperkuat kemandirian pangan di Jatim dan nasional.

“Percepatan tanam padi ini sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo yang meminta pemerintah daerah yang menjadi lumbung pangan di daerah melakukan percepatan masa tanam,” ujarnya.



Karenanya, Khofifah meminta kepada lima kabupaten yang menjadi lumbung pangan Jatim untuk melakukan percepatan masa tanam kedua padi. Kelima kabupaten tersebut antara lain, Kabupaten Tulungagung, Ngawi, Nganjuk, Tuban, dan Jember. Kelima daerah lumbung pangan Jatim inj juga menjadi penyangga bagi 16 provinsi di kawasan Indonesia Bagian Timur.

“Jawa Timur menjadi provinsi pengangga bagi 16 provinsi di Indonesia khususnya yang ada di bagian Timur, hampir 80 persen kebutuhan logistiknya disuplai dari Jawa Timur,” terangnya.

Demi mendapatkan hasil yang optimal, Khofifah juga menugaskan kepada Kepala Dinas Pertanian Jatim bersama tim pertanian untuk terjun langsung melakukan monitoring masa tanam di masing masing wilayah yang menjadi lumbung pangan di Jatim.

“Kami berharap, dengan dimulainya masa tanam sampai dengan masa panen tidak ada ganguan sehingga hasil yang di tuai produktif dan harganya juga kompetitif,” tandasnya.

Sebagai informasi, Jatim merupakan salah satu wilayah berstatus lumbung pangan nasional. Saat ini memiliki luas panen pada semester I 2020 seluas 1.120.153 ha. 

Sedangkan untuk produksi padi pada semester I ini diperkirakan mencapai 6.185.310 Ton GKG atau setara dengan 4.066.348 ton beras. Potensi konsumsi Jatim diperkirakan mencapai 2.133.143 ton beras. Sehingga pada Semester I 2020 ini surplus beras Jatim mencapai 1.933.205 ton beras.

Sementara itu, Bupati Tulungagung Marwoto Birowo menjelaskan bahwa Tulungagung akan terus menjadi penyangga pangan di Jatim. Saat ini di Tulungagung memasuki jadwal kemarau basah, dimana seluruh aktifitas di persawahan melakukan cocok tanam dan panen kedua juga memanen Jagung.

“Kami berharap, dengan dimulainya percepatan musim tanam kedua ini hasil yang didapatkan bisa lebih sukses dan mendapatkan hasil yang signifikan guna menunjang kebutuhan pangan nasional,” katanya.

Kepala Dinas apertanian Provinsi Jatim Hadi Sulistyomengatakan Kabupaten Tulungagung memiliki sasaran luas tanam 45.850 ha dalam tahun 2020. Target pada Bulan Juni dapat terpenuhi tanam seluas 3.390 ha.

Dilokasi tanam, tepatnya di Desa Bangunjaya memiliki area seluas 160 ha dengan total area tanam seluruh Kecamatan Pakel seluas 973 ha. Saat ini, varietas yang digunakan adalah Inpari 42, Inpari 16 dan Logawa. Pihaknya meyakini, jika semua bersinergi dari pemerintah, petani dan stakeholder pangan di Jatim akan tercukupi.

“Saya meyakini dan memiliki semboyan Jika Kita Bersama Pangan Tersedia,” ungkap Hadi.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan , Suwandi menyataka Gerakan Percepatan Tanam pada April-September 2020 ini dilaksanakan di 8 wilayah andalan, 9 wilayah utama dan 16 wilayah pengembangan. Kementerian Pertanian (Kementan) memberikan bantuan benih, alat mesin pertanian, asuransi pertanian dan pendampingan agar percepatan tanam sukses dan memberikan hasil yang tinggi.

“Ini saatnya setiap wilayah membuktikan komitmennya. Komitmen untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat, maka dari itu gerakan percepatan tanam menjadi yang utama,” jelasnya.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, percepatan tanam padi sudah dilakukan sejak awal bulan ini. Jajaran di Kementan langsung turun ke lapangan memastikan semua wilayah satu suara melakukan perceparan tanam,” sambung Suwandi.

Perlu diketahui, pada MT II target tanam seluas 5,6 juta hektar. Dari situ nantinya bulan juli sampai desember akan ada 12,5 – 15 juta ton beras. Luas panen Januari Juni 5,83 juta hektar dengan produksi 29,31 juta ton gabah kering giling.(*)


BACA JUGA