Bupati Simeulue Semarakkan Tanam Serentak di Bulan Juni

Selasa, 09 Juni 2020 | 14:16 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

SIMEULUE, GOSULSEL.COM — Bupati Simeulue, Erly Hasyim bersama seluruh jajaran pemerintah daerah dan para petani semarakkan tanam musim gadu serentak pada bulan Juni ini yang dipusatkan di Desa Sibuluh, Kecamatan Simeulue Cut. Dalam bahasa daerah Simeulue, kegiatan ini sering disebut Humasa Sebbel Khumaha Heba atau turun ke sawah besar-besaran dan serentak.

Program yang menjadi primadona dan unggulan di Kabupaten Simeulue saat ini, diawali dengan pelaksanaan kenduri blang sebagai pertanda turun ke sawah secara serentak di bulan juni ini dimulai. Dalam acara tersebut terlihat antusiasme sangat luar biasa dari pemerintah kecamatan, pemerintah desa,Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan masyarakat.

“Fenomena ini belum pernah terjadi sebelumnya program humasa sebbel khumaha heba Simeulue tahun 2020 telah merubah suasana yang sangat luar biasa, mendongkrak dan mempersatukan semangat para petani dengan digandeng dan didukung penuh oleh pemerintah daerah melalui instansi dan institusi terkait,” kata Bupati Erly di kantornya, Selasa (9/6/2020).

Erly menjelaskan tanam serentak adalah upaya merubah perekonomian masyarakat yang lebih baik, sehingga ini sebuah gebrakan baru sesuai potensi yang ada di Simeulue. Ia memahami betul dengan kondisi dan yang dibutuhkan Simeulue, di mana Simeulue adalah sebuah pulau yang terpisah dari daratan Sumatera.



“Simeulue tidak cocok sebagai tempat membuka ladang bisnis dan perdagangan dalam skala besar karena pulau kita bukan tempat transit akan tetapi tempat tujuan. Jika tempat transit seperti di daratan maka apa saja yang kita jual pasti laku sehingga cocok jadi kawasan bisnis. Kita adalah merupakan tempat tujuan yaitu sebuah pulau yang terpisah dari daratan yang hanya memiliki 2 jalur penyeberangan laut dan udara,” terangnya.

Erly menambahkan sebagai tempat tujuan kita harus membangun basis ketahanan pangan sendiri dari berbagai potensi yang ada di Simeulue yakni Pertanian, Perkebunan, Perikanan dan lain-lain, dengan mengelola berbagai komoditi yang ada maka kita akan mandiri dan tidak bergantung pada pasokan sembako dari luar lagi terutama beras.

“Kita bisa bayangkan dalam setahun kita harus mengeluarkan anggaran hampir 100 miliar hanya untuk membeli beras dari produsen luar daerah. Padahal kita punya ladang dan persawahan yang sangat luas dan subur, yang jika kita kelola dengan baik sudah pasti menghasilkan sumber pangan yang dibutuhkan dan uang kita tidak mengalir keluar daerah lain,” jelasnya.

Oleh karena itu, Erly mengajak masyarakat Simeulue bersinergi, bergiat dan menciptakan swakarya di bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan sektor lainnya. Di bidang pertanian waktu sangat penting, sehingga memanfaatkan musim penghujan bulan juni adalah waktu yang tepat untuk mulai bertanam kembali.

“ Untuk itu mari kita bersinergi, bergiat dan menciptakan swakarya dibidang pertanian, perkebunan, perikanan dan sektor lainnya. Mari kita mengangkat cangkul menyisingkan lengan baju serentak turun ke sawah,” ajaknya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Simeulue, T.Samsuar mengatakan Simeulue perlu menggerakan motor pertanian di berbagai sektor bukan hanya di bidang penanaman padi sawah akan tetapi tanaman palawija seperti cabai, tomat dan lain-lain dikembangkan. Usaha ini mulai terlihat hasilnya di beberapa desa. Keberhasilan dalam swasembada pangan tentunya atas kerja keras antusias semua pihak yang bergiat dilapangan yaitu para petani yang bersungguh-sungguh.

“Ingin mencapai hasil maksimal, PPL Dinas Pertanian, Pemdes, Muspika, TNI-POLRI juga awak media yang mempublikasikan dan memberikan informasi tentang pertanian sehingga memotivasi yang lainnya agar bergiat sama dengan contoh didepan mata,” tuturnya.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan gerakan percepatan tanam secara serentak adalah salah satu langkah nyata dalam meningkatkan produksi pangan sekaligus memantapkan persiapan pangan guna menjawab situasi dan dampak yang diakibatkan pandemi Covid-19. Oleh karena itu, penting hadirnya kerja keras, kerja lebih terpadu dan lebih gotong royong agar pangan rakyat bisa terjamin.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin limpo, sasaran tanam padi dan jagung tahun 2020 cukup tinggi dibanding realisasi tahun sebelumnya karena memang pangan Indonesia harus kuat, bisa secara mandiri menyediakan pangan rakyat dan kita targetkan memang harus ada peningkatan ekspor. Oleh karenanya kami mendukung penung gebrakan yang dilakukan Bupati Simeulue, atau turun ke sawah besar-besaran dan serentak,” katanya.

Suwandi menerangkan pada tahun 2020 secara nasional pemerintah menargetkan luas tanam padi 11,66 juta ha, berpotensi menghasilkan 33,6 juta ton beras. Untuk jagung, ditargetkan seluas 4,49 juta ha, berpotensi menghasilkan 24,17 juta ton pipilan kering.

“Angka sasaran tersebut diatas diharapkan bisa disampaikan kepada masing-masing Provinsi, Kabupaten/Kota untuk menjabarkan angka tersebut ke tingkat Kecamatan dan sampai tingkat Desa, dengan rincian perbulan. Rincian angka sasaran tersebut dapat dijadikan sebagai komitmen semua pihak yang terlibat dimasing-masing tingkatan, dan sebagai acuan dalam mengukur keberhasilan pencapaian sasaran tanam padi,“ ujar Suwandi.(*)