Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono, hadir dalam acara Pengembangan Ubi Kayu dan Peluang Pengembangan dalam bentuk Korporasi yang dilaksanakan di Pandopo Kabupaten Banjarnegara, Selasa (23/6/2020)

Bupati Banjarnegara Ajak Pengembangan Diversifikasi Ubi Kayu Melalui Korporasi

Selasa, 23 Juni 2020 | 18:52 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

BANJARNEGARA, GOSULSEL.COM — Kementerian Pertanian (Kementan) bersama pemerintah Kabupaten Banjarnegara fokus mendorong pengembangan diversifikasi komoditas ubi kayu melalui sistem korporasi. Karena itu, Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono hadir bersama Direktur Aneka Kacang dan Umbi, Kementan, Amirudin Pohan dalam acara Pengembangan Ubi Kayu dan Peluang Pengembangan dalam bentuk Korporasi yang dilaksanakan di Pandopo Kabupaten Banjarnegara, Selasa (23/6/2020).

Ubi kayu

Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono dihadapan para petani singkong mengajak pengembangan dan perluasan ubi kayu melalui program korporasi yang dijalankan Kementan. Dengan luas wilayah 106.970 hektar sebagian besar merupakan lahan yang sangat berpotensi untuk pengembangan ubi kayu.

“Dengan adanya program dari Kementerian Pertanian, memberikan harapan baru bagi petani singkong di Banjarnegara. Saya percaya dengan harga yang menguntungkan petani akan kembali menanam singkong,” tutur Budhi

Terkait hal ini, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjarnegara Totok Setya Winarna menambahkan tahun 2015 tanaman ubi kayu sedang jaya-jayanya karena harga singkong mencapai Rp2.000 perkilo. Sementara tahun 2017- 2018 menurun hingga Rp300 perkilo.



“Alhamdulillah tahun 2019 – 2020 meningkat menjadi Rp1.200 perkilo,” ujar Totok.

Sementara itu, total luas baku lahan singkong Banjarnegara 13 ribu hektar, sedangkan untuk luas tanam singkong tahun ini mencapai 6.000 hektar. Adapun varietas Lokal lanting adalah varietas unggulan atau primadona yang produktivitasnya mecapai 40 ton perhektar di Banjarnegara.

“Puncak panen diperkirakan pada bulan Juni – Juli 2021,” ungkap Totok.

Direktur Aneka Kacang dan Umbi, Amirudin Pohan menjelaskan terkait pengembangan ubi kayu dalam bentuk Korporasi, menjadi salah satu program yang sedang digaungkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sebagai upaya diversifikasi pangan di tengah Pandemi Covid 19. Beberapa jenis komoditas pangan lokal menjadi andalan untuk dikembangkan saat ini seperti ubi kayu, ubijalar, dan lainnya.

“Singkong atau ubi kayu ini patut diberikan perhatian lebih karena memiliki prospek yang bagus. Ubi kayu ini gampang budidayanya, tidak memerlukan lahan yang spesifik dan bahkan bisa ditanam di pekarangan rumah. Mari kita mulai manfaatkan lahan yang ada salah satunya ya dengan nanam ubi kayu ini,” jelasnya.

Oleh karena itu, Pohan mendorong petani lokal untuk bisa meningkatkan produktivitas ubikayu, salah satunya dengan pemilihan varietas tersebut dan pemupukan. Jika rata-rata provitas ubikayu di Banjarnegara 20-30 ton per hektare maka bisa ditingkatkan lagi.

“Sesuai arahan Bapak Mentan SYL bahwa pangan lokal menjadi pangan alternatif yang harus mulai diberi perhatian khusus. Manfaatkan lahan yang ada, bangun pangan lokal mulai dari skala rumah tangga supaya ketahanan pangan bisa terjaga,” kata Pohan.

“Rencana tahun 2021 dialokasikan pengembangan ubi kayu seluas 35.000 hektare. Harapannya Kabupaten Banjarnegara untuk mengusulkan kegiatan ubi kayunya,” lanjut Pohan.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menuturkan pengembangan ubikayu memang tidak bisa dipungkiri ada beberapa tantangan seperti bibit unggul bersertifikat, kondisi harga, umur panen panjang, provitas perlu ditingkatkan dan penanganan pasca panen. Namun demikian Suwandi optimis ubi kayu akan bisa menjadi komoditas primadona asalkan dikelola dengan baik.

“Masa depan pangan Indonesia akan sangat tergantung dari kinerja sektor pertanian. Untuk itu, Kementan telah mencanangkan sasaran umum kebijakan,” ujarnya.

Suwandi menambahkan Kementan pun saat ini tengah fokus pada empat aspek untuk bisa mencapai sasaran itu. Fokus pertama adalah peningkatan produktivitas dan produksi komoditas pertanian, serta peningkatan SDM. Fokus kedua, menurunkan biaya pertanian melalui peningkatan efisiensi dan pengembangan kawasan berbasis korporasi. Fokus ketiga ialah pengembangan dan penerapan mekanisasi, serta percepatan pemanfaatan inovasi teknologi.

“Fokus keempat yaitu ekspansi pertanian melalui perluasan pemanfaatan lahan, termasuk rawa dan sub-optimal lainnya, serta penyediaan air (irigasi dan embung,- red),” terangnya.(*)