Panen jagung hibrida di pekarangan warga Bleberan, Gunung Kidul, Minggu (28/6/2020)

Pekarangan Ditanam Jagung, Wabup Gunung Kidul Panen Bersama Petani

Minggu, 28 Juni 2020 | 20:57 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

GUNUNG KIDUL, GOSULSEL.COM — Wakil Bupati Gunung Kidul Imawan Wahyudi mengatakan masyarakat Gunung Kidul harus mulai memikirkan bagaimana mengantisipasi dampak Covid-19 ke depan. Masyarakat memanfaatkan peluang peluang dan potensi yang dimiliki warga Gunung Kidul seperti potensi pertanian untuk harus terus dikembangkan.

“Saat ini kondisi di Gunung Kidul tinggal satu orang yang masih dirawat positif Covid-19, sehingga diharapkan seluruh warga mulai memikirkan antisipasi dampak Covid-19 agar Gunung Kidul bisa melewatinya dengan aman,” ujar saat panen jagung hibrida di pekarangan warga Bleberan, Gunung Kidul, Minggu (28/6/2020).

Imawan menilai sektor pertanian paling tangguh di tengah situasi pandemi Covid-19. Ini dibuktikan dengan masyarakat Dusun Bleberan bisa panen jagung hibrida di pekarangan dengan hasil yang menggembirakan.



“Pengembangan usaha pertanian terus kita dorong agar perekonomian masyarakat di tengah dampak Covid-19 tetap aman. Petani tetap memperoleh penghasilan,” sebutnya.

Sumaryarto, Dukuh Bleberan sekaligus mewakili Kelompok Tani Tegalsari melaporkan bahwa pertanaman jagung di pekarangan dusun Bleberan mencapai 15 ha ditanami jagung monokultur. Jika satu desa Bleberan bisa mencapai 100 ha, dengan hasil ubinan dicapai 6,2 ton per ha pipil kering, sehinggga ini merupakan hasil yang sangat menggembirakan.

“Kelompom tani berharap kedepannya difasilitasi infrastruktur air untuk lebih memajukan poktan dan pemuda taninya, karena ingin mengintensifkan pertanian antara lain sayuran dan padi sawah,” ucapnya.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul, Bambang Wisnu Broto sangat mengapresiasi upaya Kelompok Tani Tegalsari dengan intensifikasi pekarangan menanam jagung hibrida.

“Hasilnya cukup baik dicapai 6,2 ton per hektare. Jika harga jagung Rp 3.500 per kilogram maka setiap satu hektar akan didapat Rp21,7 juta per hektare,” katanya.

Saat ini panen jagung hibrida di pekarangan Kelompok Tani Tegalsari merupakan panen perdana di musim kedua 2020. Total pertanaman jagung di musim kedua mencapai 6.056 ha. Bambang berharap pemuda tani Tegalsari bisa memajukan pertanian desanya.

“Bisa meneruskan cita cita modernisasi pertanian, karena pertanian di Gunung Kidul menjadi tumpuan untuk kedepannya,” tutur Bambang.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Suwandi mengatakan mengapresiasi upaya Kabupaten Gunungkidul yang memanfaatkan potensi pekarangan untuk ditanami.

“Sesuai arahan Bapak Mentan SYL bahwa kita harus jeli melihat peluang potensi yang ada. Jagung ini juga termasuk yang harus kita manfaatkan potensinya untuk bisa ditanam di lahan terbatas, pekarangan misalnya. Apalagi di wilayah Gunung Kidul ini kan tipikal lahan keringnya sesuai untuk tanam jagung,” sebutnya.

Disamping itu, Suwandi juga menerangkan rata-rata produktivitas jagung lokal saat ini sekitar 6,4 ton/ha. Kementan menargetkan produktivitas naik menjadi 8 sampai 9 ton/ha.

“Tercukupinya kebutuhan jagung juga akan semakin menjauhkan Indonesia dari keran impor jagung yang merugikan petani,” terangnya.

“Dengan pola tanam jagung mengikuti pola tanam yang dilakukan pada komoditas padi secara terus menerus maka musim panen bisa juga terus berlanjut sepanjang tahun seperti halnya di Gunung Kidul ini,” sambung Suwandi.(*)


BACA JUGA