Warga Tompobulu Maros gelar Tradisi Assilanca Usai Panen Padi
#

Begini Tradisi “Assilanca” Warga Tompobulu Maros Usai Panen Padi

Kamis, 16 Juli 2020 | 17:04 Wita - Editor: Dilla Bahar - Reporter: Muhammad Yusuf - GoSulsel.com

MAROS, GOSULSEL.COM– Setiap tahunnya, semua petani yang ada di Indonesia selalu mengharapkan panen yang sangat besar. Panen besar ini adalah simbol jerih payah selama berbulan-bulan bekerja di sawah. Akhirnya, ketika panen raya petani akan menyambutnya dengan sangat suka cita. Bahkan beberapa kelompok masyarakat yang ada di Indonesia sampai melakukan sebuah ritual.

Ritual panen biasanya dilakukan sesudah panen. Petani akan merancang sebuah upacara persembahan sebagai wujud suka cita kepada Yang Maha Kuasa. 

“Assilanca” salah satunya. Assilanca adalah sebuah ritual mengadu kaki dalam merayakan hasil panen padi pertama oleh masyarakat di Dusun Baru, Desa Bontomanurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros. 

Ritual adat masyarakat Tompobulu ini dilakukan dengan menendang kaki bahagian betis. Dalam ritualnya, pinati (tokoh adat) terlebih dahulu memanjatkan doa-doa kepada Yang Maha Kuasa. Usai memanjatkan doa, barulah kemudian warga melakukan tradisi “assilanca”. Dalam sekali adu, dimainkan oleh dua orang penendang dan dua orang yang berdiri untuk ditendang (dilanca). 



Camat Tompobulu Nazaruddin, menuturkan bahwa kegiatan ini mulanya dilakukan oleh Karaeng Baru dan Karaeng Layya. Keduanya, masing-masing membawa “anda guru” (murid) untuk kemudian dipassaung (diadu) dengan cara “assilanca” diatas bukit yang terletak di Dusun Baru. 

“Menurut sejarah dari pinati yang ada disini. Dahulunya itu Karaeng Layya dan Karaeng Baru mengadu muridnya, cuman bedanya dulu para bangsawan tersebut membekali muridnya senjata tajam yang kemudian dipasangkan ke kaki masing-masing murid yang akan mengadu kaki,” ujar Nazar akrabnya disapa. 

Kebiasaan itupun turun temurun dilakukan oleh warga Tompobulu, bahkan setiap tahunnya ada warga Layya yang datang untuk ikut merayakan acara adat ini. Selain “assilanca” warga juga melakukan penyembelihan ribuan ekor ayam kampung, kemudian dimasak secara tradisional. 

“Ribuan ayam dipotong, dimasak dan dihidangkan bersama dengan songkolo. Semua menyambut dengan suka cita, bergembira dan makan bersama-sama. Bisa dibilang mirip hari Raya lebaran, warga ramai dan bersilaturrahmi,” katanya. 

Menurut salah seorang tokoh pemuda Tompobulu Yusuf, bahwa tradisi ini merupakan hal yang wajib setiap tahunnya dilakukan oleh warga khususnya di Desa Bontomanurung. Pasalnya, ketika usai panen padi pertama tiba, tidak boleh satupun warga yang boleh melakukan kegiatan lain sebelum pesta panen selesai digelar. 

“Ia setiap tahun digelar karena tidak boleh ada yang melakukan kegiatan lain kalau upacara adat belum selesai. Misalnya, warga sama sekali tidak boleh menebang pohon, melangsungkan perkawinan dan sebagainya,” ujar Yusuf. 

Hal itu sudah menjadi tradisi yang turun temurun dilaksanakan oleh 7 orang tokoh adat. Konon katanya, jika ada warga yang melanggar atau tidak ikut maka akan mengalami suatu hal. 

“Perayaan ini dilakukan selama tiga hari bahkan lebih. Dulunya, pernah terjadi hal-hal yang menimpa warga yang melakukan kegiatan lain, padahal tradisi belum selesai digelar. Makanya, tidak ada satupun warga yang berani melanggar,” bebernya. 

Dalam perayaan ini juga berbagai macam hasil pertanian, peternakan dan perkebunan warga Bontomanurung dijadikan hidangan saat upacara dilangsungkan. Seperti, kacang, pisang, nasi, songkolo, jagung, telur, ayam dan banyak lagi. 

 

Warga pun berharap kiranya perayaan ini bisa dilestarikan dan mendapat perhatian khusus dari pemerintah. “Seharusnya kan perayaan ini para tokoh adat mengenakan pakaian adat. Akan tetapi, keterbatasan kami maka diselenggarakan ala kadarnya saja. Semoga, kedepan pemerintah bisa turut andil untuk pelestarian budaya ini,” ujarnya. (*)