Banjir kembali melanda Luwu Utara

Banjir Susulan Kerap Landa Warga Masamba

Rabu, 12 Agustus 2020 | 22:42 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

LUWU UTARA, GOSULSEL.COM – Tepatnya di Desa Mari-Mari, pada malam itu (11/8) sekitar pukul 19.30 wita terjadi kepanikan warga akibat arus besar air di sungai yang melintas pada perbatasan Kabupaten Luwu Utara dan Luwu ini. Dikabarkan, banjir akan menerjang permukiman yang ada di tepian sungai dikarenakan derasnya hujan sejak sore.

Paniknya warga tersebut merupakan buntut dari banjir besar yang melanda Luwu Utara satu bulan lalu, atau tepatnya 13 Juli 2020. Hingga kini, banjir masih menjadi duka, ingatan dan fisik lingkungan terdampak banjir masih belum hilang.

Luwu Utara, khususnya di lokasi yang terdampak parah banjir besar, seperti Masamba, sekarang ini sering dilanda banjir susulan. Tiap hujan dengan intensitas tinggi serta waktu yang cukup lama melanda, warga langsung merasa terancam bencana.



Banjir yang sejak sebulan terakhir rutin merendam Luwu Utara karena mendangkalnya aliran sungai akibat material lumpur tebal. Lumpur tersebut terbawa saat banjir bandang terjadi satu bulan lalu.

“Sekarang sungainya penuh lumpur, jadi semakin sempit untuk aliran air,” jelas Miftahul Jannah dari tim Masyarakat Relawan Indonesia yang sedang bertugas di Masamba, Luwu Utara, Rabu (7/8/2020).

Pada Jumat lalu, Miftah mengabarkan di Dusun Rea Kak, Desa Radda, Kecamatan Baebunta mengalami banjir dengan ketinggian selutut orang dewasa. Banjir di lokasi tersebut terjadi setelah wilayah itu dilanda hujan selama satu jam.

Berbagai fasilitas umum yang masih berdiri pun, seperti jembatan, saat ini kondisinya mulai mengalami kerusakan. Pilar penopang jembatan mulai goyah karena terus-menerus dihantam material.

Bukan hanya sekali banjir susulan terjadi di Masamba dan kecamatan di sekitarnya yang juga terdampak bencana. Sebelumnya, pada awal Agustus, banjir juga terjadi di Kelurahan Bone Tua, Bone serta Desa Baloli juga merendam jalan Poros Masamba. Penyebab banjir ini pun sama, karena badan sungai yang dipenuhi lumpur terbal dan menjadi dangkal.

Merespons banjir bandang di Luwu Utara, sejak awal kejadian hingga hari ini, ACT terus menerjunkan relawan dan menyalurkan berbagai bantuan dari dermawan bagi penyintas bencana di Masamba dan sekitarnya. Selain relawan dan bantuan, salah satu armada kemanusiaan terbaik, Humanity Food Truck, juga dikirim untuk menyediakan ratusan porsi makanan siap santap per hari bagi relawan, petugas serta warga di sana.

Andi Syurganda Haruna dari Tim Program ACT Sulawesi Selatan, Rabu (12/8), mengatakan, hingga kini ACT senantiasa merespons kebutuhan penyintas bencana di Luwu Utara. Posko kebencanaan pun masih berdiri di Jalan Rambutan Nomor 1, Kelurahan Baliase, Masamba. Armada kemanusiaan serta bantuan pangan terus datang yang bersumber dari dermawan yang menyalurkan kebaikannya melalui ACT.

“Satu bulan pascabencana, warga terdampak masih membutuhkan bantuan. Bahkan, mereka pun sekarang masih banyak yang tinggal di pengungsian karena rumahnya tertimbun lumpur tebal yang terbawa waktu banjir besar,” jelas Andi.

Ia menambahkan, kebutuhan pangan saat ini sangat mendesak untuk dipenuhi, di samping air bersih, obat-obatan, serta pakaian. Selain itu, warga pun membutuhkan tempat tinggal baru sebagai pengganti rumahnya yang hancur diterjang bencana.

“Peran masyarakat luas sangat dibutuhkan untuk mengembalikan kehidupan warga terdampak bencana. Karena walau sudah satu bulan lalu bencana besarnya terjadi, tapi hingga kini mereka masih hidup dalam kondisi terbatas dan kekurangan,” ungkap Andi.(*)