7 Perguruan Tinggi Dukung Kementan Perkuat Sistem Perkarantinaan

Jumat, 28 Agustus 2020 | 22:08 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

JAKARTA, GOSULSEL.COM — Mentan Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan pentingnya sinergi perkarantinaan sebagai gerbang lalu lintas berbagai komoditas pertanian. Kerjasama Badan Karantina Pertanian dengan lembaga riset pertanian, termasuk hasil riset yang datang dari para akademisi di perguruan tinggi, menurutnya menjadi mutlak.

“Balai karantina yang ada diakselerasi, jangan dibiarkan sendiri, kita dan kampus harus masuk pada pendekatan yang lebih canggih, by digital. Jangan pake gaya peramal atau di kira-kira, gaya karantina jaman dulu, dan ini harus didukung oleh semua,” jelas Mentan saat penandatangan nota kesepahaman dengan 7 (tujuh) universitas wilayah timur Indonesia.

Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) melaksanakan Acara yang dilaksanakan di Agriculture War Room (AWR) Kementan, Jumat (28/8) ini untuk memperkuat sistem perkarantinaan, khususnya bio sekuriti, keamanan hewan dan tumbuhan.

Kerjasama yang ditandatangani secara virtual tersebut, diharapkan mendorong kompetensi sumberdaya manusia di kedua belah pihak yang berkualitas, serta memperkaya wawasan di bidang karantina pertanian, terutama bagi petugas dalam melakukan fungsi pengawasan hama dan penyakit tumbuhan dan hewan, hingga mendukung peningkatan ekspor komoditas pertanian dan pangan Indonesia.



Adapun tujuh universitas yang menandatangi nota kesepahaman adalah Universitas Hasanuddin, Universitas Cendrawasih, Universitas Papua, Universitas Gorontalo, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Alhaairat dan Universitas Tadulako.

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil mengatakan implementasi undang-undang 21 tahun 2009 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan mengharuskan Barantan sebagai institusi teknis, menangani isu Sanitari dan Fitosanitari atau SPS, kesehatan hewan dan tumbuhan, termasuk agensia hayati, serta pengawasan keamanan pangan dan keamanan pakan.

“Kementan sangat membutuhkan kerjasama dengan dunia pendidikan baik nasional maupun internasional. Kami butuh inovasi ilmu pengetahuan, seperti dalam bentuk biosensor untuk mendeteksi cepat hama penyakit hewan dan tumbuhan dan bentuk inovatif lainnya,” ujar Jamil.

Rektor Universitas Hasanudin, Dwia Aries Tina Pulubuhu, mengungkapkan dukungannya atas pentingnya sistem perkarantinaan dengan edukasi kepada masyarakat mengenai bio terrorism.

“Rekayasa genetika pertanian bisa berdampak buruk, kita menikmati buah-buahan import dengan variasi yang luar biasa. Tapi kita tidak merasa ada rekayasa genetika yang berbahaya,” kata Dwia.

Menurutnya, para pakar yang ada di kampus paham hal ini, dan dapat membantu memberikan edukasi kepada masyarakat. “Kami siap untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bio terrorism,” terang Dwia.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Rektor Univesitas Papua, Meky Sagrim mengungkapkan dukungan yang sama guna membangun sistim perkarantinaan pertanian. “Manusia boleh hidup tanpa pesawat, tanpa gadget, tanpa mobil, tapi tidak mungkin hidup tanpa pertanian, oleh karena itu, kami siap untuk mendukung MoU untuk membangun pertanian yang maju di seluruh Indoensia ini,” kata Meky.(*)


BACA JUGA