Ahmad Hidayat, Head of Sulawesi, Grab Indonesia bersama dengan Nurdin Abdullah, Gubernur Sulawesi Selatan

Grab Kenalkan Teknologi Geofencing di Makassar, Perketat Protokol Kesehatan Mitra Pengemudi Agar Terlindungi

Jumat, 25 September 2020 | 12:31 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Grab membantu pemerintah dan masyarakat Makassar untuk dapat beradaptasi di tengah pandemi Covid-19 yang kian merebak dengan menjadi aplikasi online pertama di Indonesia yang memperkenalkan teknologi geofencing yang dapat mendeteksi dan memberikan peringatan kepada mitra pengemudi Grab yang berkerumun di sebuah area.

Ilustrasi Teknologi Geofencing Grab yang dapat mendeteksi lokasi mitra pengemudi untuk memastikan mereka tidak berkerumun

Teknologi ini diperkenalkan untuk memastikan mitra pengemudi tetap menjaga jarak aman sesuai imbauan pemerintah, dan juga untuk menjaga kesehatan mereka. Mitra pengemudi yang terdeteksi berkerumun, akan menerima peringatan melalui pesan teks atau pop-up di aplikasi mitra pengemudi mereka.

Teknologi ini telah diperkenalkan di berbagai kota di Indonesia, termasuk Jakarta, Surabaya, Malang, Makassar, Manado, Balikpapan, Samarinda, Mataram, Kupang dan juga provinsi Bali.

Teknologi geofencing awalnya dimanfaatkan oleh Grab untuk memantau pergerakan mitra pengemudi dan membantu teknis terkait permintaan layanan. Memasuki masa pandemi, Grab mengembangkan teknologi ini untuk memastikan mitra pengemudi tidak berkerumun dan menjaga jarak aman agar kesehatan terjaga dan tetap bisa produktif. Saat mereka bisa produktif, mobilitas masyarakat Makassar juga akan terbantu.



Halim Wijaya, Head of East Indonesia, Grab Indonesia menjelaskan, “Sejalan dengan misi GrabForGood, kami ingin memastikan bahwa setiap orang, termasuk mitra pengemudi, dapat menikmati manfaat dari ekonomi digital. Karenanya, pasti kesehatan menjadi prioritas utama supaya mitra pengemudi kami tetap bisa produktif.”

Lanjutnya, “Teknologi geofencing yang telah kami manfaatkan sejak awal Grab beroperasi, kami terapkan untuk membantu proses pengawasan mitra pengemudi di lapangan ini mulai awal pekan ini. Penerapan geofencing merupakan salah satu solusi inovatif dalam mendeteksi GPS mitra pengemudi yang berkumpul dalam satu lokasi, dimana sistem kami akan langsung memberikan peringatan kepada mereka yang didapati melanggar peraturan,” jelasnya.

Selain teknologi geofencing, Grab juga telah melakukan berbagai inisiatif berikut, untuk membantu masyarakat dan mitra pengemudi beradaptasi di tengah pandemi:

Komunikasi Melalui Aplikasi Mitra dan Media Sosial – Grab mengirimkan pesan melalui aplikasi mitra pengemudi untuk mensosialisasikan aturan pemerintah dan mengimbau mitra pengemudi untuk menghindari kerumunan lebih dari 3 orang.

Penambahan Kode Etik – Grab menambahkan pasal dalam Kode Etik Mitra Pengemudi untuk memastikan mereka mengikuti imbauan pemerintah dan demi menjaga kesehatan mereka, agar dapat terus produktif. Mitra pengemudi yang ditemukan tidak menggunakan masker atau berkerumun akan diberikan sanksi berupa penonaktifan akun mitra pengemudi selama 14 hari setelah peringatan pertama.

Pengecekan Langsung di Lapangan – Saat ini Grab menugaskan puluhan personil untuk melakukan patroli guna memberikan imbauan persuasif kepada mitra pengemudi yang masih berkumpul di satu area dan memberikan edukasi mengenai pentingnya social distancing.

Santunan Bagi Mitra Pengemudi – Grab juga memberikan santunan pendapatan untuk mitra pengemudi yang terkena Covid-19 agar mereka bisa fokus melakukan isolasi mandiri atau menunggu masa penyembuhan.

Nurdin Abdullah, Gubernur Sulawesi Selatan, menyampaikan apresiasinya bagi Grab. “Saya mengapresiasi langkah Grab yang menjadi pelopor teknologi geofencing untuk melacak posisi mitra pengemudi yang berkerumun dan akan memberi teguran. Hal ini sejalan dengan program taktis Pemerintah Provinsi Maupun Pemerintah Kota Makassar yaitu Gerakan Trisula (massive tracking, intensive testing, dan public health education) guna menekan laju pandemi Covid-19 di Sulsel”.

“Saya kira sangat penting, mengingat jutaan masyarakat bergantung pada layanan ojek online Grab untuk beraktivitas sehari-hari, sehingga protokol kesehatan mereka juga harus ketat dan diawasi. Saya harap ini bisa menjadi contoh bagi perusahaan lain untuk menerapkan kebijakan serupa,” tambahnya.(*)