Tim PPDM Unibos tahun 2020 kembali melakukan pendampingan pengembangan budidaya dan pengolahan kentang di Kawasan Puncak Desa Bonto Marannu, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng

Tim PPDM Unibos Lakukan Pembinaan Kelompok Tani Kentang di Bantaeng

Rabu, 07 Oktober 2020 | 14:47 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

BANTAENG, GOSULSEL.COM — Tim Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) Universitas Bosowa (Unibos) tahun 2020 kembali melakukan pendampingan pengembangan budidaya dan pengolahan kentang di Kawasan Puncak Desa Bonto Marannu, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng.

Selain menjadi kawasan sentra tanaman Hortikultura dan Agrowisata di Sulawesi Selatan, Tim PPDM Unibos 2020 yang diketuai oleh Prof Dr. A. Muhibuddin, dengan Anggota Tim Ir. Jeferson Boling, MP, dan Fatmawati, S.TP., M.Pd dengan melibatkan empat orang mahasiswa, melakukan pendampingan pengabdian dilokasi tersebut dengan harapan akan memberikan kontribusi dalam memberdayakan petani kentang dan sebagai upaya meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat desa di kawasan tersebut.

Beberapa program yang dilakukan termasuk melakukan bimbingan kepada kelompk tani dalam sistem budidaya kentang sekaligus pengolahan hasil kentang untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pelibatan masyarakat sejak tahap Sosialisasi, Pendampingan hingga Pemberdayaan yang meliputi teknik pembibitan kentang, teknik pengendalian terpadu hama dan penyakit, teknik pemanfaatan dan pembuatan pupuk organik, teknik budidaya kentang, dan pengembangan usaha industri rumah tangga berbahan baku kentang, seperti (donat kentang, stik kentang dan lainnya).

Tokoh masyarakat di wilayah Kecamatan Ulu Ere H. Naim dan Jabbar, S.Pt menyampaikan, “Saya ucapkan terima kasih kepada Tim PPDM Universitas Bosowa atas bimbingan kepada kelompok tani di wilayah kami untuk memberdayakan masyarakat desa dengan berbagai metode seperti Penyuluhan, Peragaan, dan Kaji tindak (action research). Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami karena memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi, mutu, dan pengolahan kentang di tingkat petani serta ekstensifikasi sekaligus perkembangan industri perbenihan kentang,” tuturnya.



Menurut Prof A. Muhibuddin selaku ketua tim mengatakan, “Root of problem yang harus diatasi pada wilayah mitra kelompok tani di wilayah ini adalah aspek produksi yang meliputi tingginya penggunaan pupuk kimia contohnya pestisida dan herbisida untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit tanaman untuk meningkatkan produksi, masih perlunya peningkatan produksi dan produktivitas kentang di wilayah ini, tingginya serangan hama dan penyakit kentang. Sedangkan dari aspek manajemen adalah sistem manajemen distribusi benih yang tidak jelas sumbernya sehingga kelompok tani dan petani tidak mengetahui asal usul sumber benih untuk pertanamannya, ketersediaan benih yang tidak tepat, baik dari sisi jumlah dan kualitas, ketepatan waktu distribusi, harga yang bersaing, dan pelayanan yang lambat, juga keterampilan pengolahan hasil kentang oleh Kekompok Tani dan Ibu-ibu rumah tangga serta anggota keluarga lainnya masih perlu ditingkatkan untuk menumbuhkan industri rumah tangga pengolahan kentang dalam meningkatkan perekonomian di desa,” tuturnya.

“Kedepan kami menargetkan untuk jangka panjang dari kegiatan ini adalah tercapainya peningkatan mutu kentang, peningkatan kapasitas produksi (kuantitas & kualitas) dan pembentukan klaster atau penyaluran distribusi benih yang tepat di kalangan kelompok tani atau petani di masa akan datang,” tambahnya.(*)