Perkuat Ketahanan Pangan, Kementan Dorong Pengembangan Pertanian Terpadu

Selasa, 27 Oktober 2020 | 21:12 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

JAKARTA, GOSULSEL.COM — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong pengembangan pertanian terpadu di seluruh Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan. Dengan model tersebut, bukan hanya menghasilkan produk padi yang berkualitas, tapi juga menambah pendapatan petani.

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan, Eddy Purnawan mengatakan konsep pertanian terpadu sudah ada sejak dahulu. Saat ini banyak berkembang di berbagai wilayah di Indonesia dengan beragam model.

Misalnya di Sukoharjo, Jawa Tengah, terdapat pertanian terpadu di lahan dua hektar (ha) yang mengembangkan budidaya padi dengan ikan dan ternak. Di lokasi tersebut, bisa diterapkan indeks pertanaman (IP) 400 atau empat kali tanam padi.

Teknik yang petani terapkan adalah menggunakan benih berumur pendek 72 hingga 90 hari karena semai di luar lahan, pola tanam dan waktu tanam sesuai kalender tanam, pupuk kimia hanya urea dan jumlahnya pun 25 kg/ha/musim tanam. Sedangkan unsur hara berasal dari kompos, limbah tanaman dan limbah ternak.



“Pertanian terpadu di Sukoharjo juga hemat air sawah, air dari sumur/embung/pompa karena lahannya memang berada di lahan kering atau tadah tadah hujan. Bahkan intergrated farming yang dilakukan petani di Sukoharjo ini menuju zero waste. Model ini mulai direplikasi di beberapa daerah lainnya,” kata Eddy saat Webinar Pertanian Terpadu di Jakarta, Selasa (27/10/2020).

Contoh lainnya pertanian terpadu menurut Eddy adalah budidaya mina padi di Sleman, DI Yogyakarta dengan model agriculturemix. Di lokasi tersebut dibudidayakan padi, udang, cabai dan timun, bahkan menjadi lokasi eduwisata. 

“Meski model mina padi sudah ada sejak lama, tapi pertanian terpadu tersebut kini kembali diminati petani. Hampir di semua lokasi pertanian terpadu menjadi egrowisata,” tuturnya.

Model pertanian terpadu menurut Eddy, juga bisa menggunakan sistem surjan, khusunya pada daerah yang air tanahnya dangkal. Misalnya, kombinasi padi dengan jeruk yang dilakukan petani di Kalimantan Selatan.

Eddy mengungkapkan, di lokasi pengembangan pertanian terpadu, petani umumnya membuat pupuk organik sendiri dengan limbah kotoran sapi, baik dari urine dan kotoran padat. Misalnya di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, petani membuat pupuk organik dengan menambahkan limbah dari penggilangan tebu. 

“Sesuai kebijakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan arahan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, pengembangan pertanian terpadu untuk memberikan dampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Sebab, nilai ekonominya menjadi tinggi, karena akan efisien dalam penggunaan lahan. Dengan berbagai tanaman yang ditanam petani, akan saling menyelamatkan jika salah satu tanaman ada yang gagal panen,” ujarnya.

Eddy menjelaskan, konsep pertanian terpadu juga akan diterapkan di lokasi food estate di seluruh Indonesia. Saat ini setidaknya ada lima lokasi yang pemerintah garap untuk food estaet yakni di Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas (Kalimantan Tengah), Kabupaten Humbang Hasudutan (Sumatera Utara), Sumba Timur (NTT) dan Pulau Buru (Maluku).

“Kita harapkan tahun depan, bisa dikembangkan lebih banyak lagi. Tahun 2020 ini ada lima titik yang kami biaya,” katanya. 

Konsepnya menurut Eddy, nanti semua berbentuk korporasi. Jadi pengelolaan food estate bersifat terpadu dari on farm hingga hilir, bahkan market place, serta menerapkan pertanian modern. 

Di lokasi food etstae, pemerintah juga akan membuat klaster dengan luasan 1000 hektar (ha) dengan multi komoditas. Ada pangan, sayuran dan ikan. Di lokasi itu juga, pemerintah akan menerapkan pertanian modern dengan pengelolaan lahan secara modern dan fasilitasi pasca panen. 

Bahkan dalam pengelolaan klaster tersebut akan ada manajer. Pada tahapo awal akan dibiayai pemerintah. Namun secara bertahap diharapkan di tiap klaster akan mandiri, termasuk membiayai manajer. “Kita harapkan klaster-klaster itu menjadi lumbung pangan di lokasi food estate hingga tingkat desa,” katanya.(*)


BACA JUGA