Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria

Rektor IPB: Sektor Pertanian Penyelamat Pembangunan Nasional di Masa Covid

Minggu, 01 November 2020 | 22:49 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

JAKARTA, GOSULSEL.COM — Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria mengatakan di tengah pandemi Covid-19, sektor pertanian menjadi penyelamat bagi pembangunan nasional. Ini ditunjukkan dari data hasil pencapaian pada tahun 2019 sampai 2020 yang mengalami peningkatan yang luar biasa, terutama peningkatan untuk produk domestik bruto (PDB).

“Kontribusi PDB tahun 2019 12,09 persen, saat ini dimasa covid naik menjadi 15,01 persen. Khusus subsektor tanaman pangan, naik 21,63 persen menjadi 25,82 persen pada tahun 2020. Kalau dibandingkan dengan sektor lain, sektor pertanian dapat menjadi penyelamat bagi pembangunan nasional,” ujar Arif di pertemuan Evaluasi Sektor Pertanian pada Minggu (1/11/2020).

Lebih lanjut, Arif menjelaskan penyelamat yang dimaksud yakni pertama, empower of last resource. Menurutnya, pada era pandemi sektor pertanian justru meningkat pangsanya, di antara 3 sektor besar yaitu manufaktur, perdagangan dan pertanian dan hanya sektor pertanian yang memiliki pertumbuhan positif.

“Subsektor yang memiliki pangsa terbesar terhadap PDB pertanian adalah sub sektor perkebunan. Pada era pandemi, pangsa subsektor tanaman pangan meningkat tajam, menunjukkan respon positif Kementerian Pertanian dalam menjaga ketahanan pangan,” katanya.



Kedua, kata Arif, sektor pertanian menjadi penyelamat kinerja ekspor. Dalam periode 2016-2018, pangsa ekspor pertanian mengalami penurunan namun di era pandemi pangsa ekspor mengalami peningkatan. Subsektor perkebunan masih merupakan andalan utama ekspor.

Subsektor tanaman pangan, sambungnya, meskipun difokuskan untuk menjaga ketahanan pangan nasional, masih dapat memberikan devisa dari ekspornya dengan kecenderungan meningkat.

“Satu hal lain yang perlu diketahui, kenapa PDB bisa meningkat, salah satunya adalah faktor penunjang yaitu serapan KUR (kredit usaha rakyat) yang meningkat, dari tahun 2019 sebesar Rp31 triliun dan saat ini sudah Rp44 triliun hingga Oktober 2020. Ini prestasi yang belum pernah ada,” tegas Arif.

Berangkat dari capaian ini, Arif menyebut ada beberapa rekomendasi IPB yang perlu ditindaklanjuti dalam pembangunan sektor pertanian kedepan yakni pertama, akurasi data dengan menggunakan cara-cara baru seperti penggunaan satelit. Kedua, sistem neraca produksi pertanian perlu ditingkatkan, seperti penyediaan benih, pengendalian hama, dan penerapan GAP, perbaikan mutu, dan lain-lain.

Ketiga, lanjutnya, yakni perluasan dan optimasi lahan perlu ditingkatkan, seperti Food Estate. Keempat, penguatan lokal (subsitusi impor terigu). Kelima, korporasi pertanian perlu didorong dengan meninggalkan kebiasan lama dan konvensional-tradisional dan keenam, asuransi pertanian. 

“Paling penting lainnya adalah dukungan kebijakan fiskal dan koordinasi secara teknis dengan kementerian lainnya. Kebijakan fiskal yang dimaksud adalah kebijakan rasio untuk substitusi impor.  Para pengimpor terigu, harus menyerap bahan baku lokal,” bebernya.

Sementara itu, Widiastuti, Tim Evaluasi Sektor Pertanian mengatakan upaya fasilitasi ekspor dengan penyuluhan atau pendampingan sangat perlu diperhatikan. Hal ini penting agar tidak terjadi penolakan produk. 

“Dimasa mendatang, subsektor tanaman pangan menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan neraca perdagangan pertanian,” katanya.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Nunung Nuriantoro menegaskan sektor pertanian saat ini menjadi andalan dalam perekonomian dan ketahanan pangan. Sektor pertanian dapat menjadi solusi dalam menurunkan kemiskinan.

“Selain terkait ketahanan pangan, dalam pengurangan stunting dan memperbaiki kesehatan, sektor pertanian dapat menjadi solusi yaitu  seperti inovasi yang dikembangkan IPB, telur rendah kolesterol dan sirup dari singkong,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi mengatakan mengenai capaian positif sektor pertanian dimasa pandemi Covid-19, yakni dalam peningkatan produksi beras tahun 2020 merupakan hasil dari strategi dan kebijakan yang dijalankan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional saat ini. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) memfokuskan program peningkatan produksi untuk ketahanan pangan nasional dan ekspor sehingga tidak hanya menyalurkan program namun hingga terjun langsung ke lapangan menyelesaikan masalah.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian SYL, kami terus turun ke lapangan, tidak hanya memantau tetapi memastikan bahwa kami mengambil langkah konkrit secara langsung dan cepat jika ada lahan yang belum diolah dan ditanami,” ujarnya.

Suwandi menjelaskan Kementan menerapkan konsep pertanian maju, mandiri, dan modern. Praktik di lapangan antara lain penggunaan benih unggul, pupuk berkualitas, mekanisasi pertanian modern yang mempercepat budidaya lahan, penanaman dan panen, pendampingan asuransi pertanian dan pendampingan masif.

“Langkah lain, percepatan pengusahaan lahan di lahan tadah hujan, lahan kering, dan persawahan di lokasi yang siap air dengan didukung modal dari Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kementan bersama dengan perbankan mempermudah petani untuk mendapatkan permodalan, sehingga usaha pertanian menjadi lebih mudah dan mandiri,” tutupnya.(*)


BACA JUGA