Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Tanaman Pangan, melakukan MoU dengan Perkumpulan Produsen Pemurni Jagung Indonesia (P3JI), Jumat (6/11/2020) lalu

Kementan Jalin Kerjasama Optimalkan Pemenuhan Jagung Rendah Aflatoxin

Minggu, 08 November 2020 | 21:02 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

BANDUNG, GOSULSEL.COM — Kebutuhan industri akan jagung rendah aflatoxin menjadi peluang untuk dikembangkan lebih lanjut. Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Tanaman Pangan, melakukan MoU dengan Perkumpulan Produsen Pemurni Jagung Indonesia (P3JI) sebagai perkumpulan industri pengguna Jagung Rendah Aflatoxin (JRA) seperti industri pati jagung, sweetener, bihun jagung pada hari Jumat (6/11) lalu.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi di sela-sela acara tersebut mengatakan kerjasama ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan jagung dari dalam negeri bagi industri anggota P3JI.

“Sebenarnya jagung rendah aflatoxin mempunyai bentuk dan rasa yang sama dengan jagung lainnya, yang membedakan adalah kandungan aflatoxin kurang dari 20 ppb,” sebutnya.

Jagung dengan kualitas seperti inilah yang telah memenuhi standar keamanan pangan untuk dikonsumsi sebagai bahan pangan serta digunakan sebagai bahan baku industri pangan.



Menurut Suwandi kebutuhan jagung rendah aflatoxin ini lebih dari 1 juta ton setiap tahun. “Tentunya kondisi Indonesia yang saat ini sudah mampu memproduksi lebih dari 24 juta ton jagung setiap tahun harusnya dengan mudah mampu memenuhi kebutuhan tersebut,” terangnya.

“Sesuai arahan Mentan Syahrul Yasin Limpo bahwa saat ini kita tidak hanya bertumpu pada kuantitas saja tapi juga kualitas yang baik, dengan adanya komitmen penyediaan jagung rendah aflatoxin ini saya yakin kita sebenarnya mampu memenuhinya dari dalam negeri sendiri,” kata Suwandi.

Di tempat sama, Maya Devi Ketua P3JIĀ  menegaskan bahwa P3JI sangat berkomitmen untuk memulai membangun pasokan dari dalam negeri. “Kami tidak hanya semata-mata untuk kepentingan industri, tapi juga ingin berkontribusi untuk kepentingan petani,” akunya.

Selain sebagai milestone produksi jagung berkualitas dengan pendekatan agroindustry, dengan adanya kerjasama ini Maya berharap bisa ikut berkontribusi pada peningkatan pendapatan petani.

Untuk menghasilkan jagung ini, menurut Gatut Sumbogodjati, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan menyebut ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah sebaiknya melakukan panen dengan melebihkan 10 hari dari umur maksimal jagung tersebut.

“Sebagai contoh jagung hibrida, rata-rata umur siap panen adalah 110 hari, maka untuk memperoleh jagung rendah aflatoxin panenlah jagung tersebut pada umur 120 hari,” terangnya.

Langkah kedua adalah melakukan penanganan panen yang baik dengan berbagai sarana yang tidak merusak biji jagung, karena apabila biji jagung sudah rusak, akan memudahkan penurunan mutu jagung yang dipanen.

Selanjutnya Langkah ketiga adalah melakukan proses pasca panen dengan baik dan mempercepat proses pengeringan. Sebaiknya jagung yang sudah dipanen empat jam kemudian telah di pipil langsung dikeringkan dengan mesin pengering (Dryer).

Gatut menegaskan bahwa kemitraan antara petani jagung, unit pengering dan industri pengguna menjadi prasyarat produksi jagung rendah aflatoksin dalam skala industri bisa berjalan baik.

“Jika semua sudah bergerak sinergi baik Pemerintah, industri, maupun petani
maka saya yakin kita mampu memenuhi produksi jaging rendah aflatkosin ini,” pungkas Gatut.

Dari kerjasama ini akan ditindaklanjuti dengan percontohan tanam jagung rendah aflatoksin di Provinsi Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sebelumnya juga sudah dimulai ujicoba di Kabupaten Lombok Timur untuk memasok industri makanan minuman seluas 40 hektare dan telah berjalan sejak tahun 2019.(*)