Kondisi bangunan jamban (toilet) salah satu SD di Gowa yang direhab dengan menggunakan anggaran DAK diabadikan, Senin (9/11/2020)

Kerap Tuai Sorotan, Disdik Gowa Awasi Ketat Proyek DAK Sekolah

Selasa, 10 November 2020 | 10:43 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Rusli - GoCakrawala

GOWA, GOSULSEL.COM — Proyek rehabilitasi sekolah yang dianggarkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) di Kabupaten Gowa setiap tahun menuai sorotan. 

Pelaksanaan di lapangan kerap ditemukan bermasalah. Ini jadi atensi Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Gowa. Tahun ini, proyek DAK diawasi secara ketat. 

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Gowa, Dr Salam menuturkan, sesuai petunjuk teknis (Juknis), proyek DAK sekolah dilakukan secara swakelola. Dimana proses pekerjaannya menjadi tanggungjawab penuh kepala sekolah.

Namun, fakta yang terjadi selama ini, ada beberapa oknum kepala sekolah yang nakal. Berupaya mencari keuntungan pribadi. Dengan cara mengurangi volume atau melaksanakan pekerjaan tidak sesuai spesifikasi Rancangan Anggaran Biaya (RAB) yang telah ditentukan. 



Akibatnya, mutu pekerjaan tak maksimal. Tahun lalu saja, sebut dia, ada 12 sekolah yang tidak tuntas pekerjaannya. “Ini semua ulah kepala sekolah. Tidak becus bekerja. Akibatnya Pemda yang rugi. Berutang,” beber Dr Salam kepada Go Cakrawala di ruang kerjanya, Senin (9/11/2020).

Tahun ini, kata dia, hal tersebut tak boleh lagi terjadi. Kata Dosen UNM itu, Disdik Gowa telah bekerjasama dengan Inspektorat dan Kejaksaan untuk memonitoring pelaksanaan DAK di sekolah-sekolah. 

“Sejak awal memang kita sudah mewanti-wanti kepala sekolah agar bekerja sesuai RAB. Yang nakal, kita langsung laporkan ke Inspektorat untuk diperiksa,” tegasnya. 

DAK sekolah sendiri meliputi pekerjaan rehab kelas dan perpustakaan, Ruang Kelas Baru (RKB), serta pengadaan buku dan mobiler. Hasil pantauan di lapangan, sejauh ini progress pekerjaan berjalan lamban. Itu dikarenakan anggaran yang tersendat-sendat.

Sebagian besar sekolah, terutama SD pekerjaannya berhenti. Alasannya, anggaran tidak cair. “Pekerjaan kita hentikan karena anggaran tidak cair,” aku Kepala SD Inpres Pappareang, Kecamatan Parangloe, Mansyur. 

SD Inpres Pappareang mendapat alokasi anggaran DAK sekitar Rp400 juta lebih. Itu untuk pembangunan RKB perpustakaan beserta perabotnya. Tapi yang baru dikerja RKB perpustakaan. Karena anggaran yang cair baru Rp150 juta. Itupun progres fisiknya baru sekitar 10 persen. 

“Atapnya belum ditutup,” ungkapnya. 

SD Inpres Borisallo pun begitu. Bantuan rehab perpustakaan yang dikerjakan baru pemasangan rangka atap. “Kemarin dua kali saya cek ke bank, tapi belum ada. Baru buku perpustakaan yang tiba di sekolah,” beber Kepala SD Inpres Borisallo, Hanurung.

SD Inpres Borisallo mendapatkan alokasi DAK untuk rehab perpustakaan sebesar Rp90 juta. Plus pengadaan buku senilai Rp50 juta. Hanya saja, khusus untuk pengadaan buku itu, ia sebatas menerima barang saja. Bukan pihaknya yang langsung membelanjakan.

“Saya tidak kelola anggarannya. Sisa terima buku saja,” aku dia.

Terkait soal ini, PPTK DAK SD Disdik Gowa, Neno menerangkan, dalam proyek DAK, kepala sekolah memang tidak mengelola anggaran pengadaan buku. 

“Kepala sekolah hanya mengelola pekerjaan fisik saja. Pembelanjaan bukunya melalui e-Katalog. Via online,” jelas Neno.

Soal anggaran yang tersendat, lanjut Neno itu bukan kewenangan Disdik Gowa. Melainkan di Keuangan Daerah. Menurutnya, proses pencairan anggaran disesuaikan dengan realisasi volume pekerjaan. 

“Rata-rata memang untuk SD baru tahap pertama yang cair. Selanjutnya dalam waktu dekat ini tahap dua,” terangnya. 

Ia menambahkan, alokasi DAK untuk SD di Kabupaten Gowa tahun anggaran 2020 sebesar kurang lebih Rp20 miliar. Ratusan SD yang dapat. 

“Ada juga beberapa sekolah yang dapat bantuan perbaikan jamban. Nilainya sebesar Rp14 juta,” pungkas Neno.(*)


BACA JUGA