Prioritas Kebijakan Food Security, Mentan SYL: Stok Beras 2020 Aman

Minggu, 22 November 2020 | 15:39 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

JAKARTA, GOSULSEL.COM — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mengatakan prioritas kebijakan pembangunan yang dijalankan berbasis mewujudkan food security (ketahanan pangan). Oleh karena itu, peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri benar-benar terjamin, faktanya ketersediaan beras higga akhir 2020 aman.

“Ketersediaan pangan khusus beras dalam kondisi aman dan terkendali. Bahkan, pasokan beras yang ada bisa melimpah karena adanya musim panen raya beberapa waktu lalu. Apalagi program yang paling terkonsentrasi selama pandemi Covid-19 ini adalah kesiapan beras untuk tahun 2020 hingga 2021,” demikian ujar Mentan SYL dalam kunjungan kerjanya di Makassar, Minggu (22/11/2020).

Ia menyebutkan terjaminya ketersediaan beras ini dibuktikan dengan fakta dan data. Tercatat, produksi beras dari Januari-November sudah mencapai 31 juta ton, sementara konsumsi beras di tahun 2020 sebesar 20 juta ton. 

“Artinya apa? masih ada stok 7 juta ton yang cukup untuk konsumsi hingga awal tahun 2021. Stok beras awal kita mulai dari 5,9 juta ton dan kita sudah melakukan Musim Tanam 1 dan 2. Jadi beras kita akan aman,” tegasnya SYL.



Menurutnya, Indonesia sebagai negara agroklimat dengan kekuatan geografis dan sumber daya alam yang sangat melimpah, prioritas membangun food security adalah tujuan yang paling penting dan strategis membangun pertahanan nasional dan kesejahteraan rakyat. Pasalnya, kekuatan sebuah negara akan berdiri secara kokoh apabila ketersediaan ketahanan pangannya cukup dan itu salah satu yang harus wujudkan secara kuat.

“Karena itu, kami aat ini sedang fokus pada program percepatan Musim Tanam I yang berlangsung pada Oktober 2020 hingga Maret 2021, meski nantinya akan ada ancaman badai La Nina,” ucapnya.

“Kita optimis akan ada 18,5 jua ton beras yang tersedia untuk Januari-Juni 2021 mendatang. Dengan adanya stok beras 18,5 juta ton ditambah over stok 7 juta ton, maka angka konsumsi kurang lebih diperkirakan sekitar 15 juta. Sehingga stok pada Juni 2021 masih tersedia 9 juta ton,” pinta SYL.

Terpisah, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mengatakan pihaknya mendukung kebijakan Kementan sehingga pihaknya mendorong adanya sinergiras antar lembaga dan kementerian lain yang lebih kuat. Untuk mewujudkan dan menumbuhkan sektor pangan.

“Semua pemangku kepentingan harus mengembangkan strategi yang memajukan sektor pertanian termasuk pada masa pasca pandemi. Kita dukung penuh sehingga produksi kuat dan nanti untuk kebutuhan ekspor perkuat ekonomu makro,” bebernya.

Sementara itu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Profesor Ahmad Firdaus menilai fokus kebijakan membangun food security nantinya memastikan potensi ekspor. Sebab jika kebutuhan produk pangan dan logistik transportasi dalam negeri sudah terpenuhi, maka untuk keperluan perdagangan global atau ekspor dalam kondisi aman dan terkendali.

“Sejauh ini faktor tersebut sudah terpenuhi dengan baik. Karena itu saya optimistis ekspor pertanian kita masih akan terus tumbuh,” bebernya.

Firdaus mengatakan, kenaikan ekspor pertanian tidak lepas dari kondisi negara-negara importir yang sudah mulai membaik pasca pandemi Covid-19. Khusus kelapa sawit, menurut Fidaus, permintaannya akan semakin positif karena banyak produk turunan yang diperlukan saat pandemi Covid-19.

“Tentu capaian ini tidak lepas dari sinergi yang terus tumbuh dengan Kementerian dan Lembaga lain seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian dan pihak swasta,” ujarnya.(*)