Adnan-Kio Bakal Siapkan Beasiswa untuk Guru Bahasa Daerah

Jumat, 04 Desember 2020 | 19:36 Wita - Editor: Dilla Bahar -

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Aksara Lontara merupakan salah satu warisan kebudayaan dan sejarah Bugis-Makassar yang fenomenal. Perlu diketahui, tidak semua bangsa besar di dunia memiliki aksara. Salah satunya hanya Bugis-Makassar.

Makanya Calon Bupati dan Wakil Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan-Abdul Malaganni Karaeng Kio punya cara khusus, agar generasi saat ini masih mengenal dan tahu Aksara Lontara.

pt-vale-indonesia

Hal ini diungkapkan oleh Adnan, saat menjawab pertanyaan Prof Dr Abdul Kadir Ahmad M.Si, saat Debat Publik III yang digelar Pilkada Gowa 2020, di Hotel Four Poin by Sheraton Makassar, pada Rabu (2/12/2020).

Peneliti Balitbang Agama Makassar itu menanyakan tentang bagaimana cara Adnan-Kio mempertahankan salah satu kearifan lokal Bugis-Makassar itu, yang belakangan agak terlupakan di kalangan milenial.

“Ada tidak program untuk masyarakat Gowa melek tulis dan baca Lontara? Supaya budaya kita itu tidak hilang. Karena sudah banyak bangsa di dunia kehilangan khasanah kebudayaannya karena sudah tidak digunakan dan tidak diajarkan,” tanya Prof Abdul Kadir.

Pertanyaan Prof Abdul Kadir dijawab lugas oleh Adnan. Katanya, program seperti itu sudah dijalankan di periode pertamanya. 

“Kami sudah mengeluarkan kebijakan, khususnya sekolah di Kabupaten Gowa, ini kita masukkan kurikulum bahasa daerah. Memang belum semua SD sama SMP melaksanakannya, namun sudah ada beberapa sekolah yang menjadi percontohan,” katanya.

Harapannya, lanjut Adnan, sekolah yang telah memberlakukan kurikulum itu, bisa jadi prototipe sebelum diberlakukan secara menyeluruh untuk SD dan SMP se-Kabupaten Gowa. 

“Artinya apa? Ini yang harus kita pertahankan supaya anak, cucu, dan keponakan kita, tidak lupa juga terkait dengan Lontara, yang masuk dalam kategori bahasa daerah. Itu yang kita pertahankan dan itu yang menjadi komitmen kita untuk menjaganya,” tegas Adnan.

Dijelaskan pula, di Gowa ada namanya program “Imtak Indonesia”. Program ini mengganti pelajaran baca, tulis, hitung untuk siswa kelas 1 dan 2 SD. 

“Kita ganti dengan kurikulum bermain, yang kita bentuk tim pakarnya, untuk merumuskan kurikulumnya. Nah di dalam program imtak ini diajarkan nasionalisme, diajarkan etika, diajarkan adat dan budayanya orang Sulawesi Selatan. Sehingga bukan hanya kecerdasan pikirannya, tetapi yang kita inginkan adalah karakternya. Nah oleh karena itu kita masukkan muatan daerah, untuk di kurikulum Imtak Indonesia ini,” papar Adnan.

Adnan juga menyambut baik usulan Prof Abdul Kadir, untuk menghadirkan guru-guru bahasa daerah yang dikuliahkan oleh pemerintah, yang secara khusus dipersiapkan menjadi tenaga pengajar bahasa daerah. 

“Ini menjadi masukan bagi kami. Insya Allah kami akan akomodir demi mencetak guru bahasa daerah lewat program beasiswa dari pemerintah, untuk menjaga kearifan lokal kita, khususnya Lontara,” pungkas Adnan. (*)


BACA JUGA