Ketua IDI Kota Makassar, dr Siswanto Wahab

Dukung IDAI, IDI Makassar Tolak Sekolah Dibuka Sampai Ada Vaksin Covid-19

Jumat, 04 Desember 2020 | 12:20 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Rencana pemerintah melakukan pembukaan sekolah tatap muka Januari 2021 mendapat penolakan. Salah satunya dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar.

Disampaikan Ketua IDI Kota Makassar, dr Siswanto Wahab, perlu diingat ada tiga poin penting untuk perhatikan masa depan anak. Ialah hak anak hidup, hak anak sehat dan hak anak mendapatkan pendidikan.

Peningkatan jumlah kasus yang signifikan pasca pembukaan sekolah telah dilaporkan di banyak negara. Sekalipun negara maju. Sebut saja Korea Selatan, Prancis, Amerika Serikat.

“Oleh sebab itu, bila rencana transmisi pembelajaran tatap muka tetap perlu diberlakukan pada bulan Januari 2021, IDI Kota Makassar mendukung kebijakan IDAI. Dan menegaskan perlu adanya sejumlah hal yang diperhatikan dan dilakukan yang mencakup dukungan untuk kesehatan dan kesejahteraan anak,” katanya pria yang akrab disapa Anto ini, Jumat (4/12/2020).



“Yakni penundaan pembukaan sekolah untuk kegiatan pembelajaran tatap muka sampai vaksin Covid-19 sudah ada dan tentu saja memiliki andil yang cukup besar untuk menurunkan transmisi,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua IDAI Pusat, Aman Bhakti Pulungan mengatakan bahwa guru dan staf, serta murid juga merupakan masyarakat yang memiliki resiko yang sama untuk tertular. Dan menularkan Covid-19 .

“Menimbang dan memperhatikan panduan dari WHO, publikasi ilmiah, publikasi di media massa, dan data Covid-19 di Indonesia pada saat ini. Maka IDAI memandang bahwa pembelajaran melalui sistem jarak jauh (PJJ) adalah hal yang lebih aman,” katanya.

Namun demikian, berbagai laporan terkait kesejahteraan anak dan keluarga selama pandemi berlangsung juga perlu mendapatkan perhatian. Penting, kata dia, bagi pemerintah untuk memperhatikan persoalan tersebut.

“Sebut saja adanya peningkatan stres pada anak dan keluarga, perlakuan yang salah, pernikahan dini, ancaman putus sekolah, serta berbagai hal yang juga mengancam kesehatan dan kesejahteraan anak yang secara umum dialami di negara-negara berkembang,” kata Aman.

Mulai dari pendidikan disiplin hidup bersih sehat, penerapan protokol kesehatan dari rumah hingga ke sekolah. Termasuk mempersiapkan kebutuhan penunjang kesehatan anak seperti masker, bekal makanan dan air minum, pembersih tangan, hingga rencana transportasi. Kendati demikian, orangtua juga harus memperhatikan kebutuhan anak.

Bila anak masih sangat memerlukan pendampingan orangtua saat sekolah dan memiliki kondisi komorbid yang dapat meningkatkan risiko sakit parah. Indonesia apabila tertular Covid-19, maka sebaiknya anak belajar dari rumah dulu saja.

Perlu diajarkan juga pada anak dan guru untuk mengenali dan mengetahui gejala awal sakit. Kemudian melapor pada guru apabila diri sendiri atau teman ada yang mengalami gejala sakit.

Pembukaan sekolah pun juga harus melalui sejumlah pertimbangan Dinas Kesehatan (Dinkes) dan organisasi profesi kesehatan setempat. Dengan memperhatikan apakah angka kejadian dan angka kematian Covid-19 di daerah tersebut masih meningkat atau tidak.(*)