Pembuatan sumur di areal tanam baru

Tingkatkan Produksi di Lahan Kering, Kementan Bantu Sumur di Areal Tanam Baru

Selasa, 08 Desember 2020 | 22:15 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

JAKARTA, GOSULSEL.COM — Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya menggalakan program peningkatan produksi padi untuk menjaga ketahanan pangan rakyat Indonesia. Program penanaman padi di areal tanam baru (PATB) menjadi program utama jajaran Kementan untuk memanfaatkan lahan baru sebagai lahan produksi padi.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menyampaikan Program PATB yang sedang gencar dilakukan ini sebagai arahan dari Mentan Syahrul Yasin Limpo. “Bapak Menteri selalu mengatakan untuk memanfaatkan seoptimal mungkin lahan yang ada untuk bisa berproduksi. PATB ini bisa dilakukan di areal yang belum pernah ditanami. Misalnya di lahan kering, areal pehutanan, di bawah tegakan pohon kelapa, lahan bekas pertambangan dan masih banyak lagi kiranya yang bisa dimanfaatkan daripada dibiarkan terlantar tidak dibudidayakan,” ujar Suwandi.

Ismail Wahab, Direktur Serealia saat diwawancara hari Selasa (8/12) menyebutkan bahwa pada tahun 2020 ini menargetkan 250 ribu hektare. “Bantuan saat ini sedang dalam proses dan sebagian besar sudah disalurkan untuk areal seluas 250 ribu ha di 27 provinsi,” ujar Ismail.

Dari luasan program PATB tersebut, disampaikan Ismail 231 ribu hektarenya  berupa lahan kering. Diakuinya, salah satu kendala bercocok tanam padi di areal lahan kering adalah ketersediaan air yang tidak terjamin sepanjang tahun. Hal ini mengakibatkan setelah lahan siap, penanaman hanya dapat dilakukan dengan mengandalkan curah hujan.  



Sebagai solusi jangka panjang untuk permasalahan ini, dalam kegiatan PATB, selain sarana produksi untuk tanam padi, diberikan pula bantuan biaya pembuatan sumur dan pengadaan pompa untuk memanfaatkan air tanah. “Kami sediakan sebanyak 3 ribu paket untuk menunjang ini,” tutur Ismail. 

Pada beberapa lokasi lahan kering, ketersediaan air tanah juga memadai untuk dieksplorasi melalui pembuatan sumur dangkal maupun pompanisasi. Pada lahan rawa, pengelolaan air dibutuhkan untuk mencegah penurunan pH akibat genangan anaerobik dan kelebihan air.

Air tanah salah satu pilihan sumber air yang dapat dikembangkan di samping untuk meningkatkan produktivitas pertanian, juga memungkinkan terjadinya akselerasi sirkulasi air tanah. Bagi daerah yang mempunyai potensi sumber air tanah dangkal, pemanfaatannya akan lebih mudah karena infrastruktur yang diperlukan lebih sederhana, sehingga dapat dikembangkan oleh petani setempat secara mandiri ataupun jika memerlukan dukungan masih pada tingkatan yang relatif terbatas. 

Terpisah, Kasie Padi Tadah Hujan dan Lahan Kering Marwanti mengatakan bahwa pemilihan lokasi pembuatan sumur harus memperhitungkan potensi air tanah dangkal, baik kuantitas maupun kualitasnya. Potensi sumber air tanah dangkal yang tersedia paling tidak dapat memberikan air irigasi suplementer pada areal  seluas kurang lebih 5-6 hektare tergantung debit air dan kondisi setempat.

“Jadi, supaya air tanah dangkal dapat dimanfaatkan untuk air irigasi, maka perlu pengambilan/pengangkatan ke permukaan tanah, ya salah satunya dengan pompa yang akan kita bantu ini nantinya,” ujar Marwanti.

Bantuan pembuatan sumur dari Kementan diberikan kepada kelompoktani sesuai spesifik lokasi dan secara teknis disesuaikan dengan tingkat kebutuhan. Komponen bantuan meliputi biaya pembuatan sumur dan pembelian pompa serta kelengkapannya seperti pipa dan jaringan distribusi air.(*)


BACA JUGA