Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat mengunjungi Agrowisata Terasering Jatuluwih Kabupaten Tabanan, Bali, Jumat (11/12/2020)

Kunjungi Tabanan, Mentan SYL: Bangun Pertanian Jangan Lupakan Warisan Kebudayaan

Minggu, 13 Desember 2020 | 15:12 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

TABANAN, GOSULSEL.COM — Pandemi Covid-19 berpengaruh pada sektor sosial ekonomi bahkan juga berdampak pada sektor pertanian, utamanya pada jalur distribusi bahan pokok kebutuhan masyarakat dengan pemberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar.

Namun, pertanian sebagai bagian integral dari pembangunan nasional justru memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhuan ekonomi selama pandemi.
Sektor pertanian ternyata lebih tangguh karena selain ditopang oleh teknologi modern, peran budidaya dan sistem pertanian tradisional juga tetap memberikan peran signifikan, salah satunya konsep subak dan metode pertanaman terasering yang diterapkan di Provinsi Bali.

“Terasering ini adalah keajaiban dunia. Rahmat Tuhan bagi Tabanan, bagi Bali dan Indonesia,” kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat mengunjungi Agrowisata Terasering Jatuluwih Kabupaten Tabanan, Bali, Jumat (11/12/2020).

Mentan SYL mengaku selama ini hanya bisa menyaksikan terasering melalui televisi dan media lainnya.

“Saya bersyukur. Hari ini bisa melihat langsung. Terasering ini menjadi contoh dan kebanggaan nasional. Sebuah kearifan yang harus dilestarikan,” ungkapnya.

Mantan Bupati Gowa dan Gubernur Sulawesi Selatan ini menyampaikan bahwa selama dirinya menjabat sebagai Kepala Daerah, ia mengatakan pernah menduplikasi terasering Tabanan di Kabupaten Gowa yaitu di Tinggimoncong, Tompobulu.

Bukan hanya terasering, pria yang akrab disapa Komandan ini juga pernah meniru konsep Subak saat ia menjabat Camat Bontonompo.

Pada Subak, menurutnya banyak kebaikan dan pelajaran yang bisa dipetik, diantranya mengajarkan untuk bersahabat dengan alam.

“Alam akan merespon sesuai dengan apa yang kita perbuat. Karena itu, baik-baiklah kita kepada alam,” ungkap SYL.

Subak, lanjut Mentan SYL juga mengajarkan kebersamaan dan kegotongroyongan.

“Sinergi pemerintah dengan masyarakat bisa kita lihat. Ada kebersamaan. Seperti Burung. Jika terbang sendiri kecepatannya tidak sekencang jika terbang bersama-sama dengan formasi V. Itulah kelebihan kebersamaan,” jelas SYL.

Selanjutnya, Subak menurutnya mempertahankan citra indonesia.

“Ini adalah heritage. Warisan dunia. Hal seperti ini tidak boleh ada alih fungsi lahan. Harus dilestarikan. Pendahulu kita, sejak lama sudah mampu menyediakan pangan dengan cara-cara konvensional. Kita, selaku peneeusnya tinggal melanjutkan. Dengan inovasi misalkan minapadi. Intinya, harus lebih baik. Menghadirkan nilai tambah,” imbuhnya.

Mentan SYL juga mengagumi kepedulian dan keramahtamahan mayarakat Bali. “Kerukunan ini modal besar. Saya perhatikan tidak ada kekerasan. Pak Kadis provinsi dan kabupaten, semua ini bisa kita wujudkan, syaratnya harus ada konsepsi terpadu dan terintegrasi,” pungkasnya.(*)