Akademisi UIN Alauddin Makassar, Quraisy Mathar

Akademisi: Balla Lompoa Jadi Kunci Membuka Fakta Baru Kerajaan Gowa

Senin, 14 Desember 2020 | 20:36 Wita - Editor: Dilla Bahar -

GOWA, GOSULSEL.COM–Balla Lompoa merupakan sebuah museum yang terletak di kawasan Kabupaten Gowa. Museum ini terkenal sebagai rekonstruksi dari istana Kerajaan Gowa yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-31, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu, pada tahun 1936.

Pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gowa telah berupaya melakukan pelestarian serta memperkenalkan benda-benda pusaka yang ada di dalamnya. Salah satunya dengan mengundang pelajar untuk bersua di museum Balla Lompoa. Selain memperkenalkan situs sejarah yang ada, juga memperkaya pengetahuan akan wawasan tentang Kerajaan Gowa. 

Salah seorang Akademisi dari UIN Alauddin Makassar, Quraisy Mathar menilai, Kerajaan Gowa merupakan salah satu kerajaan yang besar dan luas, sehingga benda-benda ikonik di dalamnya belum cukup untuk menggambarkan sejarah Kerajaan Gowa secara menyeluruh.

“Tentu cukup kecil seluruh benda benda ikonik yang ada di Balla Lompoa ini, termasuk Balla Lompoa itu sendiri untuk bercerita tentang masa lalu Kerajaan Gowa,” jelas Quraisy Mathar yang turut hadir dalam acara Bersua Museum di Museum Balla Lompoa. Senin (14/12/2020)



Meski demikian, kata Quraisy Mathar, Museum Balla Lompoa bisa menjadi kunci untuk membuka semua ruang yang lebih besar dan fakta-fakta baru untuk melihat sejarah masa lalu Kerajaan Gowa.

“Masih banyak yang perlu digali. Akan tetapi apabila peneliti ingin menggali lebih jauh, mereka bisa memulai dari museum ini karena kuncinya ada disini,” terangnya.

Kata dia, Museum Balla Lompoa dapat menjadi situs jembatan masa lalu dengan masa depan. Generasi saat ini mempunyai kesempatan untuk menikmati jembatan tersebut.

“Dan jembatan ini akan bercerita tentang generasi sebelum untuk kita ceritakan kembali,” tambahnya.

Menurutnya, saat ini kita berada di era transisi dari kolonial ke milenial. Untuk itu, pemerintah harus berupaya untuk menyediakan ruang atau jembatan untuk melihat sejarah yang lebih luas. 

“Milenial punya kebutuhan sejarah yang berbeda dengan generasi kolonial. Harus ada promosi, distribusi, termasuk juga digitalisasi. Itu penting, karena akan ada benda-benda yang dirawat atau tidak dirawat pasti akan rusak sesuai jamannya. Sehingga pemerintah harus punya kepekaan untuk mengelola itu,” pungkasnya. (*)


BACA JUGA