FOTO: Wakil Ketua DPP Partai Golkar Nurdin Halid dan Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel, Taufan Pawe/Kamis, 18 Februari 2021/Ist

MRP: Berhenti Mengaitkan NH dengan Pelaksanaan Musda Golkar di Sulsel

Kamis, 18 Februari 2021 | 16:58 Wita - Editor: Muhammad Fardi -

JAKARTA, GOSULSEL.COM – Perhelatan perebutan kursi menjadi orang nomor satu di Golkar Makassar kian dekat. Pelaksanaannya rencana digelar akhir Februari bulan ini.

Beberapa figur yang disebut-sebut kuat menakhodai partai berlambang pohon rindang di Kota Daeng mulai bermunculan.

Pelaksanaam Musda Golkar Makassar kali ini bahkan dicitrakan sebagai ajang pertarungan Nurdin Halid dan Taufan Pawe.

Apalagi setelah munculnya nama-nama figur atau calon kandidat seperti Wakil Ketua DPRD Kota Makassar, Andi Nurhaldin dan sang mantan Dirut PD Parkir Kota Makassar, Irianto Ahmad.

Menanggapi hal itu, Juru bicara Nurdin Halid, Muhammad Risman Pasigai menegaskan, bahwa pelaksanaan Musda Golkar Makassar sama sekali tidak ada hubungannya dengan Nurdin Halid yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum di DPP.

Apalagi sampai mengait-ngaitkan jika perebutan pucuk pimpinan Golkar Makassar menjadi panggung pertarungan kubu NH dan TP.

Meski keberadaan Andi Nurhaldin, kata MRP ada yang menyebut akan maju.

“Secara tegas kami sampaikan bahwa semua tidak ada hubungannya dengan NH. Baik rencana pelaksanaan musda hingga munculnya nama Andi Nurhaldin,” tegas Risman yang bertindak sebagai jubir NH, Kamis, (18/2/2021).

Menurutnya, Nurhaldin yang juga putra NH saat ini lebih fokus dengan tugasnya menjadi legislator apalagi posisinya sebagai Wakil Ketua DPRD Makassar tentu sangat banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Olehnya, pihak-pihak yang selalu mengait-ngaitkan Musda Golkar Makassar dengan NH untuk berhenti mulai dari sekarang.

Apalagi sampai mempersamakan level Ketua Umum PSSI itu dengan TP pada even pemilihan Ketua Golkar Makassar.

“Terlalu jauh untuk di setarakan Pak NH dan TP dalam urusan Musda kabupaten atau khususnya Kota Makassar. Cukuplah musda Golkar Sulsel di Jakarta dulu menjadi catatan politik hitam bagi kader se Sulsel,” bebernya.

Mengingat, lanjut MRP, saat Musda Sulsel di Jakarta, secara prinsip dan konstitusi pada saat itu, TP tidak memenuhi syarat yang akhirnya di gugurkan oleh SC melalui Forum Musda.

Tetapi karena bantuan Pak NH yang berkomunikasi dengan bapak Ketua Umum DPP Golkar Airlangga Hartarto dan pemilik suara serta para calon lain agar TP di sepakati sebagai ketua Golkar sulsel.

Maka semua ikut karena atas arahan pak NH waktu itu meskipun mayoritas pemilik suara menolak saat itu. Jadi sudahlah jangan main-main lagi.

“Intinya, tidak ada satupun pemilik suara yang menginginkan TP menjadi Ketua Golkar Sulsel kecuali dirinya sendiri,” beber MRP.

Namun pasca terpilih sebagai Ketua Golkar Sulsel, apa yang menjadi janji dan komitmen TP terhadap NH maupun pemilik suara lainnya, semua diingkari.

Apalagi TP pada saat itu membuat pernyataan sendiri secara tertulis sebagai bentuk komitmen kepada Pak NH dan pemilik suara yang di buat dan ditandatangani sendiri dan diserahkan sendiri kepada Pak NH di kediamannya di Jakarta saat itu.

Namun, MRP yang juga mantan Ketua Panitia Musda Golkar Sulsel membeberkan jika tak satupun komitmen tersebut di penuhi dan dipatuhi oleh pak TP.

Sehingga hal itu disebut semacam tipu-tipu politik yang diperagakan oleh Pak TP saat itu demi mendapatkan dukungan pak NH.

“Jadi, berhentilah selalu menyepadangkan antara TP dan Pak NH. Apalagi mengikut-ikutkan NH dalam pelaksanaan se Sulsel, terkhusus Musda Golkar Makassar,” menjadi panggung pertarungan kubu TP dengan NH,” tegas mantan Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Kaderisasi Golkar Sulsel. (*)


BACA JUGA