Semua Warganet Adalah Pendakwah, Karenanya Kemas Secara Positif dan Kreatif

Kamis, 01 Juli 2021 | 10:53 Wita - Editor: Muhammad Fardi -

MAMUJU, GOSULSEL.COM – Rangkaian Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siber Kreasi bersama Dyandra Promosindo kembali menggelar kegiatan diskusi virtual pada Kamis (1/7/2021), di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat.

Kolaborasi ketiga lembaga tersebut dikhususkan pada penyelenggaraan Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema kegiatan kali ini adalah “Dakwah yang Ramah di Internet”.

Program kali ini menghadirkan empat narasumber yang terdiri dari Taufik Aulia selaku penulis dan Manajer Produk Group Media Kompas Gramedia, Abdul Rifai selaku anggota Tim Dakwah PB Al Khairat, Amy Rahmi selaku penulis dan pegiat literasi, serta Kevin Horax selaku pemengaruh dan pembuat konten gaya hidup. Sementara moderator acara ini adalah Desmona selaku penyiar TV. Program kali ini dihadiri oleh 654 peserta dari berbagai kalangan usia dan juga profesi.

Narasumber pertama, Taufik Aulia, menyampaikan materi tentang keahlian digital berjudul “Pemanfaatan Internet untuk Menyebarkan Konten Positif bagi Pemuka Agama”. Taufik menjelaskan, hal yang perlu ditekankan oleh warganet adalah media atau platform dakwah yang digunakan serta bagaimana cara penyampaiannya.

“Dakwah di media sosial tidak hanya menyampaikan suatu ayat atau hadits, tetapi mampu mengemasnya dengan cara yang mudah diterima oleh orang dari segmen manapun,” ujar dia.

Selanjutnya, Kevin Horax, memaparkan materi etika digital dengan tema “Bijak di Kolom Komentar”. Menurut dia, dalam berkomentar atau membagikan konten, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai karena resikonya bisa berakibat fatal bahkan berujung pidana. Beberapa di antaranya, pencemaran nama baik, penyebaran hoaks, konten berisi ancaman, pelanggaran kesusilaan, serta kata-kata yang menyinggung SARA.

“Jumlah kasus UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) pada tahun 2000 mencapai 4.790 kasus dan yang paling banyak terkait pencemaran nama baik,” urai Kevin.

Tampil sebagai pembicara ketiga yaitu Abdul Rifai yang membawakan paparan kultur digital dengan tema “Literasi dalam Berdakwah di Dunia Digital”. Rifai menjelaskan, lebih dari 60% warganet di Indonesia sangat rentan termakan isu hoaks.

“Oleh karena itu, masyarakat harus meningkatkan kehati-hatian dengan mengecek sumber informasi serta memeriksa keaslian foto yang tersedia dalam sejumlah platform atau situs,” pesannya.

Terakhir, paparan tentang keamanan digital disampaikan oleh Amy Rahmi yang mengambil tema “Tips dan Pentingnya Internet Sehat”. Dalam materinya, ia memberikan beberapa kiat dalam membuat konten berkualitas, diantaranya menyiapkan konten yang orisinil dan kreatif, memilih topik dan judul yang menarik, serta selalu meningkatkan kualitas.
“Buatlah konten yang ringan yang tidak membuat kening berkerut,” kata Amy.

Pelaksanaan webinar episode kedua di Mamuju Tengah menarik minat peserta yang hadir secara virtual. Salah satunya, Nuning Andriati yang bertanya tentang program apa saja yang disiapkan Kementerian Agama agar pendakwah bisa menyampaikan materi dakwah yang ramah. Abdul Rifai mengatakan, pembatasan materi dakwah sejatinya tidak diatur secara spesifik oleh pemerintah.

Namun begitu, Kementerian Agama dan lembaga terkait lainnya tentu selalu mengimbau agar setiap dakwah memberikan informasi yang positif dan tidak menimbulkan perpecahan antar pemeluk agama atau kelompok. Pada acara tersebut, panitia menyediakan voucher dengan nilai masing-masing Rp100.000 untuk 10 penanya terpilih.

Kegiatan Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif dari para narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.(*)