Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan 'Danny' Pomanto saat ditemui di kediamannya, Jalan Amirullah, Jumat (09/07/2021)

Danny Jawab Tudingan Dirut RS Unhas: Dia Tidak Tahu Bedakan Covid-19 Hunter dan Detektor

Senin, 12 Juli 2021 | 16:35 Wita - Editor: Dilla Bahar - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Direktur Utama (Dirut) RS Universitas Hasanuddin (Unhas), Syafri Kamsul sebelumnya melontarkan kritik terhadap kinerja Pemkot dalam menangani Covid-19. Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto pun angkat bicara.

Apa yang disampaikan Syafri, dianggapnya, keliru. Dirut RS Unhas itu dinilai hanya bicara tanpa melihat lebih dulu program penanganan Covid-19 di Makassar secara utuh.

“Dia tidak tahu bedakan antara Covid-19 Hunter dengan Detektor, itukan fitnah,” sebut Danny.

Atas tudingan tersebut, ia menegaskan bakal mengikuti kemauan Dirut RS Unhas. Danny bakal melihat sejauh mana protokol kesehatan di rumah sakit tersebut.

“Baru beraninya dia kasi tahu kalau itu RS unhas. Nah makanya, saya akan mengikuti maunya mereka. Orang harus pake hazmat, orang harus swab. Jadi kita mulai dari Rumah Sakit Unhas nanti,” katanya.

“Kita lihat, saya bikin surat edaran, dan saya mau lihat RS Unhas, begituji kira kira,” tukas Danny.

Sebelumnya, Dirut RS Unhas, Syafri Kamsul mengkritik penanganan Covid-19 di Makassar. Ia menilai bahwa selama ini petugas yang berada di lapangan kurang mematuhi protokol kesehatan.

Berikut kritikan Syafri yang sempat beredar di sejumlah grup percakapan WhatsApp:

“Mhn izin memberi pandangan sebagai praktisi medis, kami terus terang tidak terlibat pada perencanaan Covid Hunter ini, pemerintah sudah mencanangkan PPKM yg tujuannya mengurangi mobilitas masyarakat dan kontak antar personal yg bisa mentrigger penularan dari apa yg dilakukan Covid Hunter ini sangat beresiko baik untuk personal Covid Hunter maupun transmisi kepada warga mengingat mereka door to door masuk ke rumah2 warga dengan melakukan pemeriksaan tensi, pengukuran suhu tubuh pasti tidak akan ada jarak belum lagi APD yg tidak memadai yg mereka gunakan, seyogyanya mereka memakai APD dengan proteksi maksimum (Masker N95, Hazmat proteksi tertinggi ) namun kenyataannya mereka hanya dgn masker medis biasa sangat beresiko bagi personil Covid Hunter dan selanjutnya resiko pada warga yg didatangi berikutnya. (*)


BACA JUGA