Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan 'Danny' Pomanto/Ist

Danny Pomanto: Banyak Guru di Makassar Tak Mampu Beradaptasi dengan Pembelajaran Daring

Minggu, 22 Agustus 2021 | 21:05 Wita - Editor: Dilla Bahar - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Pembelajaran secara daring yang berlangsung selama pandemi Covid-19 telah menurunkan kualitas pendidikan. Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto pun tak menampik soal itu.

Ia menyebut hanya sekitar 20 persen Guru yang bisa beradaptasi selama proses pembelajaran daring. Selebihnya merasa kesuitan.

“Mereka menganggap bahwa daring itu sebuah kesulitan padahal inilah tempat berinovasi, itulah yang kita harus cari,” ujar Danny, Minggu (22/08/2021).

“Jadi secara seleksi alam, hanya 20 persen Guru di Makassar yang punya kompetensi baik, kira-kira begitu survey dari Dinas Pendidikan,” lanjutnya.

Danny menilai, jika kesejahteraan guru dengan adanya sertifikasi tidak berbanding lurus dengan kualitasnya. “Justru yang tinggi adalah kualitas cerainya guru. Perceraian dari guru besar sekali, jadi ini harus kita tarik kejalan yg benarlah,” katanya.

Hal itu, diungkapkan Danny, karena adanya pembiaran dari kepala daerah sebelumnya. Sehingga, sistem pendidikan di Kota Makassar saat ini amburadul.

“Saya pikir ada pembiaran, dulu kami periode pertama dari nol adawiyata, menjadi hampir 100 adiwiyata, jadi sebenarnya bisa kalau kita mau, ini sekarang kita lagi nyusun konsep untuk menuju pendidikan berkualitas tinggi,” katanya.

“Jadi nanti kami bikin penelitian, misalnya kenapa sekolah A favorit, apa yang buat favorit, kenapa sekolah ini tidak diminati, kenapa sekolah ini dihindari misalnya, disparitas ini kita akan teliti, harus ada pemerataan,” sambung Danny.

Ia pun memberikan contoh. Di Korea Selatan misalnya, Guru yang punya kualitas didik terbaik, bakal digilir di sekolah berbeda.

“Jadi misalnya di korea itu, guru yang terbaik digilir ki, 3 ini bulan disini, besok 3 bulan disini, itukan konsep, tapi kita bikin petanya dulu, berapa tingkat sih ini disparitasnya, jangan-jangan 10 tingkat, atau cuma 3 tingkat, jadi gurunya kita putar,” tutupnya

Sebelumnya, Ketua Dewan Pendidikan Makassar, Rudianto Lallo mengatakan, porses pembelajaran daring yang berlangsung selama pandemi Covid 19 menyebabkan turunnya kualitas pendidikan. Hal ini usai ia mengamati kuis cerdas cermat sebagai media penilaian, yang digelar salah satu stasiun tv milik pemerintah.

“Kami dewan pendidikam sudah menggelar lomba cerdas cermat yang disiarkan langsung, berdasarkan laporan penanggung jawab ada kemunduran dari sisi kualitas,” ujar Rudianto yang juga merupakan ketua DPRD Makassar, Minggu (22/8/2021).

Dikatakannya, saat pelaksanaan kuis cerdas cermat tersebut, dihadirkan sejumlah pelajar sebagai perwakilan sekolah. Hasilnya, banyak peserta yang kesulitan menjawab saat sesi tanya jawab.

“Banyak pertanyaan dari dewan juri yang dulu katanya bisa dijawab oleh peserta anak didik kita, sekarang ini susah dijawab. Berarti ini salah satu variabel bagaiman pendidikan kita hari ini,” tutupnya. (*)


BACA JUGA