PT Vale Indonesia Tbk/Int

PT Vale Indonesia Segera Bangun Dua Smelter di Sultra

Rabu, 01 September 2021 | 15:28 Wita - Editor: Dilla Bahar - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

JAKARTA, GOSULSEL.COM – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berencana untuk membangun dua proyek pabrik pengolahan atau smelter nikel di Bahodopi dan Pomalaa, Sulawesi Tenggara (Sultra). Tahap konstruksi ditarget sudah bisa dimulai pada tahun depan.

Demikian disampaikan Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Febriany Eddy. Pihaknya, diungkapkan dia, telah berupaya agar pembangunannya bisa dimulai.

“Optimistis bisa akhir tahun depan. Skenario terburuk bisa meleset sampai awal 2023. Kami lakukan segala daya upaya kalau bisa tahun depan segera dan pararel pekerjaan awal konstruksi juga akan kami mulai. Harapannya proyek ini tidak delay lebih lama lagi,” ujarnya, Rabu (01/09/2021).

Agar konstruksi itu bisa secepatnya dimulai, perseroan tengah fokus menyelesaikan definitive agreement terkait perjanjian kerja sama. Pihaknya menggandeng dua mitra asal China untuk proyek smelter feronikel Rotary Klin-Electric Furnace (RKEF) Bahodopi.

Perjanjian kerangka kerja sama dengan Taiyuan Iron & Steel (Grup) Co. Ltd (Taigang) dan Shandong Xinhai Technology Co. Ltd (Xinhai) itu ditandatangani pada Juni 2021 lalu. Kesepakatannya secara prinsip hal-hal utama terkait dengan proyek tersebut yang bertujuan supaya proses pendanaan dan perizinan dapat berjalan.

“Principal framework agreement itu menjadi sembilan agreement, misal sales dan shareholder agreement. Ini harus terjadi dalam waktu 6 bulan sejak tanda tangan, berarti akhir tahun ini atau awal Januari seharusnya sudah selesai,” sambungnya.

Perseroan juga sedang memproses perizinan lebih lanjut, menyelesaikan detail studi teknis, dan menjajaki pendanaan proyek tersebut. Untuk sumber dana, kata Febriany, sudah dibicarakan dengan perbankan dan banyak yang tertarik.

Bila semua proses tersebut lancar, diharapkan keputusan investasi final dapat rampung pada akhir tahun ini. Lalu ground breaking smelter RKEF Bahodopi dapat direalisasikan pada tahun depan.

Perseroan saat ini juga mengembangkan proyek smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa. Disampaikan Febriany, proses perizinan proyek ini lebih rumit sebab smelter HPAL belum banyak dikembangkan di Indonesia.

Negosiasi dengan mitra, yakni Sumitomo Metal Mining Co. Ltd. (SMM), juga mengalami kendala. Itu akibat situasi pandemi Covid-19.

“Untuk Pomalaa, kami sedang proses lebih lanjut perizinannya mengingat sudah ada HPAL lain di Halmahera yang sudah jalan, paling tidak ada referensi. Kami juga dibantu Kemenko Marves [Kemenko Kemaritiman dan Investasi] agar proses perizinan berjalan lancar,” katanya.

Berjalan pararel dengan proses perizinan dan negosiasi, Vale juga mulai menjajaki pendanaan proyek HPAL tersebut. Untuk itu, pihaknya terus menggenjot proses tersebut agar bisa memulai konstruksi.

Sementara itu, CFO PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto menyebut proyek Bahodopi dengan kapasitas produksi 73.000 metrik ton feronikel membutuhkan estimasi investasi sekitar US$1,5 Miliar. Kemudian proyek HPAL di Pomalaa membutuhkan investasi pada kisaran US$2,6 Miliar.

“Angka sangat mungkin berubah dengan selesainya semua kajian teknis kami. Ini juga bisa dipengaruhi timeline eksekusi, negosiasi, dan ada beberapa hal yang harus diantisipasi,” tutupnya. (*)


BACA JUGA