Novelis, Adi Wijaya saat membawakan materinya dalam pelatihan program GEMA di Lantai 2 Ruang Multimedia Sekolah Islam Athirah Kajaolalido, Sabtu (25/09/2021)

Melalui Gerakan Menulis, Sekolah Islam Athirah Dorong SDM Bisa Hasilkan Buku

Sabtu, 25 September 2021 | 20:42 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Sekolah Islam Athirah Makassar melalui program Gerakan Menulis Athirah (GEMA) melatih guru dan karyawan untuk bisa menghasilkan sebuah buku. Pelatihan pun kemudian digelar.

Pelatihan tersebut digelar di Lantai 2 Ruang Multimedia Sekolah Islam Athirah Kajaolalido dan mulai berlangsung hari ini, Sabtu (25/09/2021). Sementara peserta yang ikut yakni sebanyak 25 orang.

Dijelaskan Kepala Departemen Kurikulum Sekolah Islam Athirah, Saharuddin, program Gema merupakan upaya menggalakan budaya literasi di lingkup sekolah. Dan itu bisa dimulai dari guru dan karyawan.

“Dulu sudah ada program menulis tetapi semakin ke sini kita semakin sadar jika tidak terorganisir dengan baik atau tidak ter sistem itu bisa hilang,” jelas Saharuddin.

Adapun para peserta, disampaikan Saharuddin, diharuskan untuk bisa menghasilkan sebuah karya buku. Namun yang perlu diperlihatkan hanyalah naskah yang sudah rampung. Mereka diberi waktu sampai Januari 2022 nanti.

“Dan diharapkan ini bisa menjadi dorongan untuk guru-guru atau pegawai yang lain,” jelas Saharuddin.

Guru dan karyawan yang ikut dalam pelatihan tersebut sudah mendaftar lebih dulu. Sementara jumlah peserta yang ada senjaga dibatasi agar pembelajaran bisa efektif.

“Selain itu, diskusi dengan tim juga sepakat pesertanya 20 sampai 25 orang saja. Dan harapannya ke depan nanti dari 25 orang itu bisa menjadi agen untuk semua unit-unit nya,” ungkap Kepala Departemen Humas Sekolah Islam Athirah, Mutmainnah.

Program GEMA akan berlangsung sekali tiap pekan dengan jumlah pertemuan sebanyak 18 kali. Di materi pertama, Sekolah Islam Athirah menghadirkan Adi Wijaya yang merupakan seorang novelis.

Adi Wijaya secara singkat menyampaikan bahwa materi yang dibawakan ialah memahami diksi. Sebab, menurutnya, buku yang dihasilkan itu baik ketika bisa dipahami oleh pembaca melalui penempatan diksi yang bagus.

“Ini kan pelatihan yang luar biasa dan mereka sudah punya target. Kita akan dampingi mereka sampai bisa hasilkan naskah siap terbit,” jelasnya.

“Jadi kita membahas diksi, bagaimana pentingnya itu untuk bisa menyampaikan pesan kita kepada pembaca. Diksi itu punya pengaruh yang besar untuk memberikan rasa tulisan kita,” tukas Adi Wijaya.(*)