Nasabah Inspiratif BTPN Syariah, Hamsina yang merupakan warga Kelurahan Batangkaluku, Kecamatan Somba Opu, Gowa yang mana kini mempunyai usaha mengepul barang bekas saat berbincang dengan pimpinan BTPN Syariah, Rabu (22/12/2021)/Ist

BTPN Syariah Berdayakan 4 Juta Perempuan di Indonesia, Salah satunya Hamsina di Gowa

Jumat, 24 Desember 2021 | 20:33 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

GOWA, GOSULSEL.COM — PT Bank BTPN Syariah (Tbk) mencatatkan lebih dari 4 juta perempuan pra sejahtera yang telah diberdayakan. Melalui pembiayaan, mereka didorong untuk mengembangkan usahanya.

Data tersebut dihimpun per September 2021. Adapun salah satu nasabah pra sejahtera yang aktif adalah Hamsina, warga Kelurahan Batangkaluku, Kecamatan Somba Opu, Gowa yang mana kini mempunyai usaha mengepul barang bekas.

Hamsina bercerita, dirinya sangat terbantu dengan adanya pembiayaan dari BTPN Syariah. Saat itu, ia mengaku membutuhkan modal untuk perputaran usaha sekaligus mengembangkannya.

Awalnya, Hamsinah mendapat pinjaman sebanyak Rp3 Juta sesuai kebutuhannya saat itu untuk membeli botol bekas. Hingga, kini ia pun sudah bisa menerima pinjaman sampai Rp30 Juta.

“Terbantu sekali ka’ dengan pinjaman usaha dari bank BTPN Syariah. Alhamdulillah keuntungan ku semakin meningkat. Perbulannya itu saya bisa dapat sampai Rp10 juta,” ucapnya, Rabu (22/12/2021).

Ia mengaku dalam sekali angkut botol bekas yang sudah dibersihkan itu bisa mencapai Rp25 juta. Namun, itu belum dipotong biaya biaya lainnya.

“Untuk satu botolnya saya beli dengan harga Rp1400 itupun kalau sudah bersih atau sudah dicuci. Tapi, kalau misalkan belum dibersihkan saya beli dengan harga Rp750,” pungkas Hamsina.

Setelah dikumpulkan, pihaknya akan mendatangkan mobil untuk diangkut. Kemudian dan disalurkan ke perusahaan tempat produksi kecep, Lombok dan beberapa produk botol lainnya.

Di tempat terpisah, Direktur Bank BTPN Syariah, Dwiyono Bayu Winantio menerangkan bahwa semua produk usaha yang dikembangkan oleh nasabah diberikan pengawasan. Pengelolaan usaha diberikan pendampingan setiap dua minggu sekali.

Itu dilakukan, kata dia, supaya target penjualan bisa tercapai. Sehingga, dari yang sebelumnya dikatakan pra sejahtera bisa menuju sejahtera.

“Jadi prosesnya itu mereka memasukkan proposal singkat tentang usahanya serta biaya yang digunakan akan diarahkan kemana,” jelas Bayu.

“Supaya kami bisa melihat peluang seperti apa yang bisa diperoleh nasabah dari usahanya. Kami juga memberikan pendampingan pengelolaan keuangan supaya bisa diatur secara sistematis,” tutupnya.(*)