Kantor Perwakilan BI bekerjasama dengan Keluarga Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (KAFEGAMA) menyelenggarakan Road to South Sulawesi Investment Challenge Seminar Nasional dengan tema “Potensi Ekonomi Kawasan Timur Indonesia dan Peran Sulawesi Selatan Sebagai Hub KTI dalam Pemulihan Ekonomi Berkelanjutan,” di Hotel Novotel Makassar, Senin (12/08/2022)

Dukung Percepatan Investasi di Sulawesi Selatan, BI Sulsel Gelar Seminar Nasional

Senin, 12 September 2022 | 21:06 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Kantor Perwakilan Bank Indonesia bekerjasama dengan Keluarga Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (KAFEGAMA) menyelenggarakan Road to South Sulawesi Investment Challenge Seminar Nasional dengan tema “Potensi Ekonomi Kawasan Timur Indonesia dan Peran Sulawesi Selatan Sebagai Hub KTI dalam Pemulihan Ekonomi Berkelanjutan,” Senin (12/08/2022).

Seminar nasional tersebut menghadirkan 4 narasumber, yaitu Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Mr. Kanasugi Kenji; Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok, H.E. Mr. Djauhari Oratmangun; Guru Besar FEB UGM Prof. Mudrajad Kuncoro dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Causa Iman Karana. Melalui kegiatan seminar nasional ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih luas bagi pemangku kebijakan terkait perspektif investor, khususnya PMA dan faktor apa saja yang dapat meningkatkan kinerja investasi serta ekonom.

Acara dibuka dengan keynote speech dari Gubernur Bank Indonesia. Dalam paparannya, GBI menyampaikan di tengah tekanan geopolitik global dan kenaikan suku bunga negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat, penguatan sinergi antara Bank Indonesia, Pemerintah dan Pelaku Usaha perlu difokuskan pada 3 (tiga) hal, yaitu: (1) stabilitas Harga; (2) investasi untuk mendukung hilirisasi; dan (3) upaya digitalisasi.

Duta besar Jepang untuk Indonesia, Mr. Kanasugi Kenji menyampaikan, Indonesia dan Jepang merupakan mitra strategis dan complementary. Ia mengatakan, “Saat ini kerjasama antara Sulawesi Selatan dan Jepang sangat potensial untuk ditingkatkan, terutama di bidang agrikultur dan perikanan. Hal utama yang perlu diperhatikan dalam ekspor produk agrikultur dan perikanan adalah kualitas dan food safety. Lebih lanjut, untuk menarik investasi Jepang, Pemerintah Daerah perlu menawarkan keunggulan komparatif, berupa transparansi dan predictability.”

Sementara itu, duta besar Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok, H.E. Mr. Djauhari Oratmangun menyampaikan insight mengenai sektor ekonomi pendorong pemulihan ekonomi dan penarik investor Tiongkok. Ia mengatakan, “Diperlukan kerja sama dengan importir Tiongkok dapat didorong melalui keberadaan sister city antara kab/kota di Sulawesi Selatan dengan daerah di Tiongkok serta konsistensi untuk dapat memenuhi permintaan dan syarat ekspor masuk ke Tiongkok. Dalam upaya untuk meningkatkan ekspor ke Tiongkok, Pemerintah Indonesia melalui KBRI juga terus melalukan diplomasi untuk pembukaan akses pasar ke Tiongkok.”

Guru besar FEB UGM, Prof. Mudrajad Kuncoro menyampaikan pemaparan mengenai Dinamika Pengelolaan Ekonomi Regional. Ia menjelaskan, “Di era industri 4.0 dan pandemi, ekonomi daerah harus dipercepat pemulihan ekonominya dengan: 1) Mengenali & memanfaatkan potensi ekonomi di tiap provinsi, kabupaten, kota, desa di daerah; 2) Meningkatan daya saing dan investasi daerah dengan memecahkan hambatan utama yang dihadapi: tingkatkan pemasaran daerah, akses modal, bahan baku, perijinan; 3) Mendorong tumbuhnya wirausaha muda daerah dengan: Iklim bisnis di daerah harus kondusif. Pemda harus menjadi fasilitator/stimulator bagi investasi dan bisnis di daerah. Perijinan yang cepat, mudah, dan bebas korupsi/ pungli/ gratifikasi; dan 4) Memperkuat litbang.”

Ia pun menambahkan, terdapat 3 (tiga) industri utama yang perlu didorong di Sulsel, yaitu perikanan, agrikultur dan pariwisata.

Dalam seminar nasional tersebut, Kepala Perwakilan BI Sulsel, Causa Iman Karana menyampaikan preliminary result dari kajian mengenai the most binding constraint on foreign direct investment di Sulawesi Selatan. Ia mengungkapkan, “Hasil survei pada 19 perusahaan terafiliasi asing yang mewakili sektor pertanian, energi, konstruksi, manufaktur, dan keuangan, menunjukkan bahwa potensi investasi di Indonesia dan di Sulsel masih tinggi. Mayoritas responden masih memiliki rencana investasi (will explore dan likely to invest) di Sulawesi Selatan dan di Indonesia dalam 3 tahun mendatang dengan Manufaktur sebagai sektor yang paling diminati. Hingga September 2022, beberapa forum investasi telah berlangsung dan sejauh ini hasilnya cukup memberikan optimisme. Dari Belt and Road Summit 2022, terdapat 34 calon investor global yang mengajukan one-on-one meeting dengan proyek-proyek yang ditawarkan, antara lain PLTB Tolo II Jeneponto, Tol Pesisir Makassar-Bantaeng, Pelabuhan Bantaeng, Industri Kelapa Sawit Luwu Utara, Industri Galangan Kapal Yassiberui, dan Kawasan Industri Makassar Maros.”

Melalui Forum Percepatan Investasi, Perdagangan dan Pariwisata Sulawesi Selatan (Pinisi Sultan), Bank Indonesia dan Pemerintah Daerah akan terus mendorong masuknya investasi dan peningkatan ekspor. Dalam waktu dekat, Forum Pinisi Sultan akan menyelenggarakan South Sulawesi Investment Challenge dalam rangka mengidentifikasi proyek investasi dari Sulawesi Selatan yang ready to offer kepada investor global.(*)


BACA JUGA