Tingkatkan Produksi, Kementan Gandeng Petani Milenial

Rabu, 05 Oktober 2022 | 19:48 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

JAKARTA, GOSULSEL.COM — Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng petani milineal sebagai penggerak pertanian dalam meningkatkan produksi guna terwujudnya ketahanan pangan nasional di tengah ancaman tantangan global cuaca ekstrim. Membuka ruang keterlibatan petani muda merupakan salah satu terobosan sebab memiliki jiwa, semangat dan gagasan kreatif untuk melahirkan inovasi yang dapat mengembangkan ketahanan pangan Indonesia.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, mengutarakan kunci ketahanan pangan adalah mampu mencukupi kebutuhan pangan sendiri. Peningkatan produksi dilakukan dengan berbagai program, misalnya penyediaan bibit unggul, pupuk berimbang, mekanisasi pertanian, penanganan pascapanen dan juga mendorong keterlibatan petani muda untuk mengembangkan pertanian dari hulu hingga hilir.

“Saat ini setelah 38 tahun, negara kita berhasil mencapai swasembada beras. Arahan Mentan, tahun 2023 Indonesia bisa swasembada jagung. Saat kondisi sulit terdampak Covid, dan iklim ekstrim, kita perlu tetap selalu waspada dan antisipasi. Kita harus menjaga stabilitas inflasi dengan bahan pangan, caranya dengan meningkatkan produksi. Peran petani milenial sangat dibutuhkan,” kata Suwandi dalam Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Propaktani yang mengangkat tema “Sumbangsih Pemuda Tani Untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan Indonesia”, Rabu (05/10/2022).

Ia menambahkan bahan pangan yang selama ini diimpor harus disubtitusi. Misalnya, meningkatkan penanaman kedelai, singkong dan sorgum sebagai substitusi gandum. Peran pemuda mewujudkan hal ini sangat penting karena kunci peningkatan produksi adalah teknologi, yang ada pada pemuda.

“Disamping mekanisasi, peningkatan produksi dilakukan melalui teknologi IT. Sekarang semua bisa online. Selain itu, pemuda merupakan ahli tata Kelola. Hilirisasi produk sebelum masuk pasar, produk diolah dengan berbagai variasi, sehingga nilai tambah bisa lebih tinggi,” ungkapnya.

“Peran pemuda mengarah pada zero waste, dengan menggunakan prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Setiap daerah harus mencukupi kebutuhan sendiri, dengan memanfaatkan semua potensi yang ada. Disinilah peran pemuda sebagai penggerak,” tambah Suwandi.

Bersamaan, Ketum DPP Pemuda Tani HKTI, Rina Saadah mengatakan status negara agraris, menjadi tantangan dan potensi bagi generasi muda. Sesuai dengan arahan Presiden, saat Indonesia butuh regenerasi petani, apalagi dinamika dunia saat ini, mendorong untuk berbenah masalah pangan.

“Jumlah penduduk yang bertambah, berpengaruh besar pada ketahanan pangan, baik aspek ketersediaan, keterjangkauan dan stabilitas. Peran generasi muda sangat dibutuhkan dalam inovasi, gagasan baru, serta akses pasar dan akses modal,” jelasnya.

Ketua Pemuda Tani Sulsel, Rachmat Sasmito menyebutkan salah satu upaya untuk meningkatkan optimalisasi pendapatan petani agar bergeser dari kelas bawah menjadi kelas menengah adalah dengan melakukan usaha pertanian dengan sistem integrated farming/ pertanian terpadu. Pertanian terpadu lebih menekankan pada tata laksana dengan memadukan komoditas (tunggal atau campuran spesies) tanaman dengan tanaman lainnya atau tanaman dengan hewan ternak pada suatu lahan atau sistem sehingga menghasilkan keuntungan bagi petani, lingkungan dan konsumen.

“Integrated farming ditujukan untuk memaksimalkan keuntungan agribisnis dan optimalisasi lahan karena integrated farming akan memelihara siklus yang dimanfaatkan dari masing-masing komoditas sehingga tercipta zero wasted,” terangnya.

Iapun menambahkan, “Sistem Integrated Farming dapat dilaksanakan dalam bentuk intensifikasi pekarangan, sistem pertanian surjan, pertanian-perikanan terpadu, pertanian peternakan terpadu dan pertanian-peternakan-perikanan terpadu.”

Turut hadir Ketua Pemuda Tani Bali, Agung Wedha menuturkan dengan smart farming, Pemuda Tani Bali sudah mengedukasi ribuan anak muda yang terdampak di Bali untuk menjadi petani baru. Dengan smart Farming, stigma petani panas, kotor dan miskin dapat mematahkan stigma tersebut dan dengan smart farming banyak kegiatan budidaya yang dikontrol dari smartphone.

“Kami super optimis, saat ini banyak negara yang mengalami inflasi tinggi karena kekurangan pangan. Selama pertanian kuat, negara akan baik-baik. Kita harus bangga menjadi petani, karena petanilah yang menjaga tatanan bangsa kita. Saat ini generasi muda tengah gemar melakukan inovasi di sektor agro,” cetusnya.(*)


BACA JUGA