Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) saat mengisi kuliah umum di Universitas Brawijaya Malang, Rabu (02/11/2022)/ Humas Kementan

Mentan SYL Ajak Mahasiswa Brawijaya Bangun Pertanian Modern

Rabu, 02 November 2022 | 19:39 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

MALANG, GOSULSEL.COM — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mengajak para mahasiswa Universitas Brawijaya Malang untuk mengembangkan sektor pertanian Indonesia melalui teknologi dan mekanisasi sebagai jalan meningkatnya produktivitas menuju pertanian modern.

“Dan orang-orang intelektual yang paling pertama di depan menjawab berbagai tantangan yang ada. Paling tidak sebagian kecil beban negara bisa kita selesaikan. Saya yakin orang pintar bisa memanage dirinya, kehidupannya, lingkungan dan waktunya,” ujar SYL saat mengisi kuliah umum di Universitas Brawijaya Malang, Rabu (02/11/2022).

SYL mengatakan, sektor pertanian merupakan solusi pasti bagi pertumbuhan ekonomi. Hal ini terbukti setelah Indonesia mampu melalui tantangan pandemi dan krisis ekonomi dunia secara baik dan terukur. Karena itu, SYL juga berharap, pertanian adalah sektor penyelamat bagi jutaan orang dalam mendapatkan lapangan kerja.

“Saya selalu mengatakan bahwa solusi dari tantangan ini adalah pertanian, kenapa? karena pertanian adalah makanan semua orang di dunia serta lapangan kerja yang paling siap untuk menghadapi tantangan besar global,” katanya.

Bagi SYL, mahasiswa adalah garda terdepan dalam melakukan berbagai perubahan. Dan pertanian adalah sektor yang paling siap dalam menyambut perubahan tersebut. SYL menyebutkan, pertanian tumbuh meyakinkan baik pada sisi produktivitas maupun ekspor.

“Maukah kita saling melengkapi, kita bilang jangan import karena rakyat bisa tanam padi sendiri. Mahasiswa bantu yuk agar petani kita lebih sejahtera. Kita tidak boleh hanya iseng, semua harus dengan kerja keras, dengan kebersamaan, ketulusan dan keikhlasan. Insya Allah pasti terlaksana,” katanya.

Sebagaimana diketahui, pertanian Indonesia tumbuh meyakinkan dengan produktivitas beras di atas rata-rata. Hal ini yang membuat FAO dan IRRI memberi penghargaan khusus terhadap sistem ketahanan pangan Indonesia yang mampu mewujudkan swasembada.

“Kita sudah 3 tahun tidak impor beras dan kita diberi penghargaan oleh FAO dan IRRI. Sekarang kita menghadapi dunia yang tidak lagi baik-baik saja. besok kita akan menghadapi krisis, krisis energi, keuangan global dan ini menjadi tantangan bagi kita. Tantangan itu pasti ada tetapi kita percaya diri dan harus optimis, tinggal seperti apa kita jalani secara bersama,” jelasnya.(*)


BACA JUGA