Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) bersama Bupati Blitar, Rini Syarifah melakukan panen padi aplikasi Biosaka di Desa Tegalrejo, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, Kamis (10/11/2022)/ Humas Kementan

Mentan SYL Panen Padi Aplikasi Biosaka di Blitar, Produktivitas 8,9 Ton

Kamis, 10 November 2022 | 19:19 Wita - Editor: Andi Nita Purnama -

BLITAR, GOSULSEL.COM — Kementerian Pertanian (Kementan) terus membuktikan berlangsungnya panen padi dalam negeri di akhir tahun sehingga ketersediaan beras 2022 melimpah. Kali ini, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) bersama Bupati Blitar, Rini Syarifah melakukan panen padi aplikasi Biosaka di Desa Tegalrejo, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar seluas 57 ha dengan produktivitas 8,9 ton per hektare (ha) gabah kering panen (GKP), Kamis (10/11/2022).

“Saya hadir di Blitar ini untuk mengatakan bahwa mau ada climate change dan tantangan apapun ke depan, tapi pertanian kita tetap terjaga berkat pertanian Blitar yang hebat. Kita tinggal butuh kerja keras memitigasi alam dan pupuk mengalami kelangkaan di dunia. Makanya kita bersyukur memiliki aplikasi Biosaka sehingga tidak bergantung pada pupuk kimia,” demikian dikatakan Mentan SYL pada acara panen padi tersebut.

Ia menjelaskan Biosaka adalah Bio artinya tumbuhan dan Saka yaitu singkatan dari selamatkan alam kembali ke alam. Biosaka itu bukan pupuk, tapi merupakan campuran pupuk yang dibuat dari ramuan, diremes manual dengan tangan dari bahan minimal 5 jenis rumput/ daun yang sehat sempurna di sawah yang dicampur air, tanpa campuran apapun hingga menjadi ramuan homogen, harmoni dan koheren lalu disemprot ke tanaman dan sisanya bisa disimpan hingga 5 tahun.

“Hari ini saya diajarkan petani Blitar membuat Biosaka. Bahannya dari rumput sekitar dan produksi padi di Blitar mencapai 9 ton per hektare menggunakan Biosaka. Penggunaan Biosaka ini bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia di atas 50 persen. Ini bisa dikerjakan oleh siapa saja, termasuk ibu-ibu tani,” terangnya.

“Penggunaan Biosaka ini sangat cocok sekali di Pulau Jawa yang unsur haranya sudah bertahun-tahun diendapkan bahan kimia. Dengan Biosaka, kesuburan tanah bisa dikembalikan,” imbuh SYL.

Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi menambahkan Biosaka itu bukan pupuk, bukan pestisida, tetapi elisitor berperan sebagai signaling bagi tanaman tumbuh dan berproduksi lebih bagus, hemat pupuk kimia sintetis, meminimalisir hama penyakit, lahan menjadi lebih subur. Pengaplikasian Biosaka di Blitar dimulai tahun 2019 oleh Anshar, petani muda penggagas asli Blitar yang sampai saat ini sudah mencapai 12.000 ha di 22 kecamatan dan mulai menyebar ke daerah lain di Indonesia.

“Satu genggam rumput diremes dicampur dengan air 5 liter cukup untuk menyemprot 3 sampai 4 hektare semusim untuk padi, jagung, kedelai singkong, sorgum, ubi, kacang, sayuran buah dan lainnya sangat efisien. Ramuan biosaka efektif dalam area wilayah setempat dan terjauh radius 20 kilometer, tidak efektif diaplikasikan di wilayah lain karena pengenalan agroekosistem,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Blitar, Rini Syarifah mengatakan beras di Blitar mengalami surplus 64 ribu per tahun. Untuk menjaga ketersediaan beras surplus, perlu peningkatan prasarana dan sarana pertanian, salah satu permasalahanya adalah kurangnya alokasi pupuk bersubsidi sehingga diperlukan inovasi dengan menggunakan pupuk organik yang murah, efisien dan mudah diaplikasikan petani.

“Karena itu, kami apresiasi dukungan Bapak Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong aplikasi Biosaka yang dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen. Untuk itu, saya menyambut baik inovasi ini dan berharap dapat diterapkan di semua lahan pertanian,” ujarnya.

Perlu diketahui, pada acara ini Mentan SYL bersama Bupati Blitar dan 500 petani Blitar serta petani di daerah lainnya secara virtual melakukan praktek pembuatan Biosaka. Selain di Blitar, aplikasi Biosaka sudah dikaji dan demplot ujicoba di Blora, Sragen, Klaten Grobogan, Jatisari dan daerah lainnya dengan hasil yang bagus oleh Tim Perguruan Tinggi dan Kementerian Pertanian.

Manfaat ramuan Biosaka yakni biaya nol rupiah, gratis buatan sendiri, tidak ada risiko kerugian bagi petani, dan menghemat biaya pupuk kimia 50 sampai 90%, sehingga petani normal pakai pupuk biasanya Rp3 juta/ha/musim menjadi cukup Rp0,3 hingga 1,5 juta/ ha/ musim serta meminimalisir atau mengurangi serangan hama penyakit dan lahan pun menjadi subur sehingga produksi lebih bagus.(*)


BACA JUGA